Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak merek mobil China yang masuk ke pasar Indonesia, namun tidak semua merek mewujudkan produksi pabrik lokal mandiri. Hingga saat ini, hanya tiga merek mobil China—Wuling, DFSK (Seres), dan BYD—yang memiliki basis produksi kendaraan utuh mandiri di Indonesia. Selebihnya, mayoritas merek masih mengandalkan impor kendaraan utuh atau pola kerja sama manufaktur kontrak untuk melakukan penjualan lokal.

Wuling adalah produsen mobil China pertama yang mendirikan pabrik sendiri di Indonesia. Basis produksinya berlokasi di Cikarang, Jawa Barat, berada di bawah PT SGMW Motor Indonesia, dan resmi beroperasi pada tahun 2017. Selain memasok pasar domestik Indonesia, pabrik ini juga mengemban tugas produksi ekspor, dengan produk yang dijual ke berbagai pasar luar negeri. Pabrik ini menjadi salah satu simpul manufaktur penting bagi produsen mobil China dalam penataan awal di Asia Tenggara.

Pada tahun yang sama, 2017, pabrik DFSK-Seres di Cikande, Serang, Banten, mulai beroperasi, dengan operator PT Sokonindo Automobile. Basis produksi ini tidak hanya memproduksi model merek DFSK, tetapi juga bertanggung jawab atas produksi lini produk Seres. Kini, pabrik ini telah menjadi basis manufaktur kendaraan energi baru yang penting di Indonesia, dan model seperti DFSK Super Cab lahir dari pabrik ini.

Yang terbaru bergabung dalam kelompok pabrik mandiri adalah BYD. Pada 3 September 2026, basis produksi BYD di Subang, Jawa Barat, diresmikan. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi tahunan yang direncanakan hingga 150.000 unit, dan saat ini telah menyerap 5.000 karyawan lokal Indonesia. Dengan diresmikannya pabrik Subang, BYD resmi menjadi produsen mobil China ketiga yang memiliki fasilitas manufaktur kendaraan utuh mandiri di Indonesia.

Selain ketiga perusahaan tersebut, merek mobil China lain yang masuk ke pasar Indonesia belum membangun pabrik kendaraan utuh sendiri. Mereka terutama menggunakan impor kendaraan utuh atau bekerja sama dengan perusahaan lokal dalam skema manufaktur kontrak untuk memasarkan produk ke pasar konsumen Indonesia. Membangun pabrik sendiri berarti perusahaan harus menanggung investasi aset tetap yang besar, namun dapat lebih baik menyesuaikan kebijakan lokal, memperpendek siklus pasokan, serta mendorong lapangan kerja lokal dan pengembangan rantai industri komponen. Ini juga merupakan tanda penting bagi produsen mobil China untuk memperdalam pasar Asia Tenggara. Seiring dengan berlanjutnya kebijakan kendaraan energi baru di Indonesia, kemungkinan akan semakin banyak produsen mobil China yang mempertimbangkan untuk membangun lini produksi lokal mandiri di masa depan.