】Pada kuartal II 2025, Investasi Langsung Asing (FDI) Indonesia mengalami kontraksi 12,8% year-on-year, namun industri pergudangan modern di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) terpengaruh positif oleh investasi asing. Tingkat okupansi pada semester I 2025 naik dari 89% menjadi 94%. Sepanjang tahun 2025 tidak ada gudang baru yang dibangun, investor (terutama di daerah Cikarang dan Karawang) aktif mencari lokasi pergudangan. Pasokan gudang meningkat dari 1,3 juta meter persegi pada 2018 menjadi 3,0 juta meter persegi pada akhir Juni 2025, hampir tiga kali lipat. Banyak perusahaan China yang berkonsultasi mengenai sewa gudang di Indonesia, cenderung menyewa gudang multifungsi yang dapat digunakan sebagai bengkel produksi skala kecil, untuk menguji potensi pasar Indonesia dengan biaya rendah dan waktu singkat (jangka waktu sewa 1-10 tahun). Setelah memverifikasi pasar, mereka mungkin mempertimbangkan untuk membeli lahan. Permintaan sewa dari perusahaan China sangat signifikan, misalnya JLL Indonesia memiliki klien China yang menyewa gudang seluas 70.000 meter persegi sekaligus, terutama di sektor otomotif (termasuk kendaraan listrik dan komponen), tekstil, elektronik rumah tangga, makanan dan minuman. Diantaranya, pemasok dan mitra BYD mengikuti jejak BYD dalam penataan di Indonesia. PT Astra International Tbk (ASII) melalui anak perusahaannya PT Saka Industrial Arjaya mengakuisisi PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP) dengan tujuan “mengembangkan bisnis investasi SIA”. MMLP adalah pengembang pergudangan profesional dengan klien seperti Unilever, Lazada, DHL, Yamaha, dll. Berbeda dengan pengembang kawasan industri yang hanya menyediakan lahan, bisnis MMLP berfokus pada pembangunan dan penyewaan gudang, sesuai dengan tren permintaan sewa asing. Penggunaan pergudangan modern didominasi oleh industri otomotif. Permintaan sewa dari asing mendorong perkembangan industri ini, dan pengembang logistik swasta telah menyadari tren ini serta menyesuaikan tata letak mereka.
】Pada kuartal II 2025, Investasi Langsung Asing (FDI) Indonesia mengalami kontraksi 12,8% year-on-year, namun industri pergudangan modern di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) terpengaruh positif oleh investasi asing. Tingkat okupansi pada semester I 2025 naik dari 89% menjadi 94%. Sepanjang tahun 2025 tidak ada gudang baru yang dibangun, investor (terutama di daerah Cikarang dan Karawang) aktif mencari lokasi pergudangan. Pasokan gudang meningkat dari 1,3 juta meter persegi pada 2018 menjadi 3,0 juta meter persegi pada akhir Juni 2025, hampir tiga kali lipat. Banyak perusahaan China yang berkonsultasi mengenai sewa gudang di Indonesia, cenderung menyewa gudang multifungsi yang dapat digunakan sebagai bengkel produksi skala kecil, untuk menguji potensi pasar Indonesia dengan biaya rendah dan waktu singkat (jangka waktu sewa 1-10 tahun). Setelah memverifikasi pasar, mereka mungkin mempertimbangkan untuk membeli lahan. Permintaan sewa dari perusahaan China sangat signifikan, misalnya JLL Indonesia memiliki klien China yang menyewa gudang seluas 70.000 meter persegi sekaligus, terutama di sektor otomotif (termasuk kendaraan listrik dan komponen), tekstil, elektronik rumah tangga, makanan dan minuman. Diantaranya, pemasok dan mitra BYD mengikuti jejak BYD dalam penataan di Indonesia. PT Astra International Tbk (ASII) melalui anak perusahaannya PT Saka Industrial Arjaya mengakuisisi PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP) dengan tujuan “mengembangkan bisnis investasi SIA”. MMLP adalah pengembang pergudangan profesional dengan klien seperti Unilever, Lazada, DHL, Yamaha, dll. Berbeda dengan pengembang kawasan industri yang hanya menyediakan lahan, bisnis MMLP berfokus pada pembangunan dan penyewaan gudang, sesuai dengan tren permintaan sewa asing. Penggunaan pergudangan modern didominasi oleh industri otomotif. Permintaan sewa dari asing mendorong perkembangan industri ini, dan pengembang logistik swasta telah menyadari tren ini serta menyesuaikan tata letak mereka.