Pemerintah Indonesia telah menetapkan Jakarta sebagai lokasi sementara Pusat Keuangan Internasional Indonesia (PFII), dan ke depannya akan membangun pusat keuangan internasional lain di Bali. Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjelaskan alasan memilih Jakarta sebagai lokasi awal. Ia menyatakan bahwa Presiden Prabowo menginginkan lembaga ini segera beroperasi untuk menangkap peluang pembangunan, sehingga kantor pusatnya ditempatkan di Jakarta yang infrastruktur dan ekosistem keuangannya sudah relatif matang. "Lokasi awal memang di Jakarta, mengapa? Karena Presiden ingin semuanya segera berjalan dan menangkap momentum." ujarnya saat diwawancarai di kantor Direktorat Jenderal Pajak Jakarta.

Mengenai Bali, ia menunjuk bahwa daerah tersebut membutuhkan waktu untuk persiapan pembangunan termasuk infrastruktur fisik. Bali dipilih karena memiliki daya tarik yang sangat kuat di mata investor global. Investor umumnya menilai bahwa dibandingkan dengan pusat keuangan internasional lainnya, Bali memiliki nilai tambah yang unik. Setelah pusat keuangan beroperasi, selain fokus pada bisnis investasi, juga dapat mendorong perkembangan pariwisata lokal berkat daya beli yang kuat dari komunitas investor. "Di Bali, mereka bilang ada keunggulan tambahan. Investor sambil bekerja juga bisa memajukan pariwisata Bali karena daya beli mereka umumnya kuat."

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara telah menyatakan bahwa pemerintah telah memilih lokasi untuk pusat keuangan internasional di Jakarta, namun belum mengumumkan posisi spesifiknya, yang akan diumumkan secara resmi oleh otoritas terkait. Ia menunjuk bahwa ini adalah kawasan khusus yang diatur oleh peraturan khusus. Kabar Jakarta sebagai lokasi PFII sebelumnya telah diumumkan oleh Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraan di DPR, dan Bali dipilih sebagai lokasi lainnya. Secara keseluruhan, Indonesia mengadopsi pola pusat ganda "Jakarta lebih dulu, Bali menyusul", yang tidak hanya memastikan pusat keuangan internasional cepat beroperasi, tetapi juga memanfaatkan daya tarik merek global Bali untuk mengeksplorasi model baru sinergi keuangan dan pariwisata.