Perusahaan BUMN jasa inspeksi mutu Indonesia, Sucofindo, dan Shanghai Hucheng Environmental Protection Technology secara resmi menandatangani nota kesepahaman kerja sama. Kedua belah pihak akan bersama-sama menggarap proyek waste-to-energy (WTE) untuk mendorong pengelolaan sampah perkotaan Indonesia yang berwawasan lingkungan dan pengembangan energi baru, mendukung peningkatan industri lingkungan Indonesia serta pencapaian target netralitas karbon. Hal ini menandai babak baru dalam kerja sama ekonomi dan perdagangan hijau Tiongkok-Indonesia. Kerja sama bilateral ini berfokus pada pemanfaatan sumber daya sampah perkotaan, dengan inti penggarapan proyek pembangkit listrik dari sampah (PSEL/WTE). Proyek ini bertujuan mengatasi masalah penumpukan sampah perkotaan Indonesia yang semakin serius, dengan tetap mematuhi standar lingkungan yang ketat dan menjaga pembangunan ekologi berkelanjutan, mengubah sampah padat rumah tangga menjadi energi listrik, mencapai berbagai manfaat berupa pengurangan, penanganan tanpa membahayakan, dan pemanfaatan sumber daya sampah, serta memberikan solusi baru bagi pengelolaan kota dan transisi energi Indonesia.
Presiden Direktur Sucofindo menyatakan bahwa penggarapan proyek pembangkit listrik dari sampah tidak hanya bergantung pada teknologi peralatan, tetapi juga membutuhkan solusi teknis yang sesuai dengan karakteristik sampah lokal, desain teknik yang patuh, sistem operasi yang stabil, kontrol emisi gas buang yang ketat, serta mekanisme pengelolaan residu. Saat ini industri pembangkit listrik dari sampah di Indonesia masih memiliki banyak kekurangan teknis, dan sangat membutuhkan dukungan teknis serta operasional yang profesional dan sistematis. Dalam kerja sama ini, Sucofindo akan menyediakan layanan inspeksi, pengujian, dan sertifikasi yang independen serta objektif sepanjang proses, mencakup seluruh siklus pembangunan proyek, pemeliharaan peralatan, dan perawatan fasilitas. Melalui pengawasan seluruh proses, dijamin semua tahapan proyek memenuhi standar kualitas, keselamatan, teknis, dan lingkungan, serta memastikan operasional pembangkit listrik dari sampah berjalan efisien, stabil, dan sesuai ketentuan.
Kerja sama ini juga merupakan langkah penting bagi kedua negara dalam mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca global dan mendorong target emisi nol karbon. Dengan menyempurnakan sistem pemanfaatan sumber daya sampah, emisi gas rumah kaca dari penimbunan sampah dapat dikurangi secara efektif, membantu Indonesia membangun ekosistem industri hijau yang berkelanjutan, dan secara bertahap mencapai target pembangunan netralitas karbon. Presiden Direktur Shanghai Hucheng Environmental Protection Technology menunjukkan bahwa Tiongkok dan Indonesia memiliki komplementaritas yang sangat kuat dalam hal sumber daya industri, teknologi lingkungan, dan permintaan pasar. Kerja sama ini merupakan penataan penting untuk ekspor teknologi pengolahan sampah padat Tiongkok ke luar negeri. Ke depannya, perusahaan akan terus menyalurkan teknologi, manajemen proyek, dan kemampuan operasi cerdas, memperdalam kerja sama strategis di bidang penelitian dan pengembangan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, penyusunan standar industri, dan penggarapan proyek, serta terus memperluas peta kerja sama hijau Tiongkok-Indonesia.