Industri petrokimia Indonesia tengah menghadapi tekanan operasional yang tidak kecil. Di satu sisi, industri dalam negeri sangat bergantung pada bahan baku impor; di sisi lain, produk plastik murah dari China masuk dalam jumlah besar, menggerus daya saing perusahaan lokal. Anggota Komisi VII DPR RI menyatakan bahwa pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan untuk mendorong penggunaan bahan baku lokal, melindungi pelaku usaha dalam negeri, dan menghadapi tekanan persaingan dari produk impor. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Plastik Indonesia menjelaskan bahwa meskipun industri petrokimia telah memasuki fase pemulihan, kondisi industri masih belum stabil; fluktuasi harga, biaya logistik, daya beli pasar, dan pasokan bahan baku terus menekan operasional perusahaan.
Terdampak situasi geopolitik, harga bahan baku naik turun tidak menentu. Untuk sebagian kategori, inti permasalahannya bukan pada bahan baku dan harga, melainkan logistik. Tarif angkutan laut melonjak tinggi, mendorong naik biaya barang impor. Pasar dalam negeri sebagian besar masih bersikap wait and see, menunggu harga dan jalur distribusi menjadi jelas. Menurutnya, kondisi pasar saat ini seharusnya menjadi momentum bagi perusahaan petrokimia lokal untuk memperluas pasar domestik. Namun jika perdagangan impor kembali normal, industri dalam negeri mudah kembali terpuruk, sehingga perlu perlindungan berkelanjutan dari pemerintah. Industri petrokimia membutuhkan produksi yang stabil dan berkelanjutan; melemahnya permintaan secara langsung menurunkan tingkat utilisasi pabrik. Sebagian perusahaan sempat mencatat utilisasi di bawah 70%, dan di bawah garis utilisasi tersebut perusahaan akan mengalami kerugian.
Selain itu, gangguan pasokan bahan baku dari kawasan Timur Tengah memaksa perusahaan beralih ke sumber alternatif dengan biaya lebih tinggi dan waktu pengiriman hingga 60 hari, yang semakin membebani modal kerja perusahaan. Ia mendesak pemerintah untuk meningkatkan kecepatan respons kebijakan, dengan langkah perlindungan yang sesuai dengan dinamika pasar. Pemulihan sektor pertambangan, tekstil, makanan dan minuman, infrastruktur, serta otomotif diharapkan dapat mendorong pertumbuhan permintaan produk petrokimia. Asosiasi khususnya berharap pada pengembangan industri kendaraan listrik dalam negeri Indonesia yang dapat mendorong penerapan komponen lokal dan bahan baku petrokimia. Ia menggambarkan bahwa industri petrokimia telah keluar dari kondisi kritis, namun belum benar-benar pulih. Fase pemulihan ini sangat rapuh; sedikit guncangan eksternal saja dapat membuatnya terpuruk kembali, sehingga pemerintah perlu menjaga proses pemulihan yang sedang berlangsung.