Indonesia Membangun Rantai Pasok Mineral Hijau Global
Dalam lanskap energi global yang beralih ke rendah karbon, pabrik pemurnian telah menjadi panggung geopolitik baru. Perebutan pengaruh yang dulu berpusat pada minyak dan selat strategis, kini beralih ke penguasaan proses pemurnian mineral kunci seperti nikel, kobalt, dan litium, yang merupakan bahan baku utama kendaraan listrik, panel surya, dan lainnya. Negara yang menguasai tahap hilir dapat mengontrol harga, pasokan, menetapkan standar lingkungan, dan mengambil posisi strategis dalam negosiasi internasional. China mendominasi persaingan rantai pasok mineral global, melalui strategi integrasi, menambang kobalt di Kongo, litium di Chili, dan membangun pusat pemurnian besar, dengan dukungan pendanaan biaya rendah dan subsidi teknologi dari pemerintah
Indonesia Berencana Membangun 18 Kilang Minyak dengan Total Kapasitas 1 Juta Barel
Subang, Jawa Barat, Mengembangkan Industri dan Pertanian Secara Bersama
Indonesia Berencana Investasi Lebih dari Enam Ratus Triliun untuk Mengembangkan 18 Proyek Hilirisasi
Produksi Nikel Indonesia Capai 63% dari Total Global, Kelebihan Pasokan Menyebabkan Harga Nikel Anjlok
Investasi Manufaktur Indonesia Melonjak, Prospek Pekerjaan Lebih dari 3 Juta Orang Membaik
Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional semester pertama tahun 2025, terdapat 1.641 perusahaan yang sedang membangun fasilitas produksi baru dengan nilai investasi mencapai Rp803,2 triliun, diperkirakan akan menyerap 3,05 juta tenaga kerja. Pada Juni 2025, produksi manufaktur menunjukkan ekspansi, Indeks Keyakinan Industri (IKI) berada di angka 52,50, menunjukkan lebih dari 50% perusahaan industri mengalami peningkatan kinerja dibandingkan bulan sebelumnya, dan permintaan tenaga kerja meningkat. Indeks Keyakinan Industri untuk industri berorientasi ekspor dan industri berorientasi pasar domestik masing-masing sebesar 52,19 dan 51,32, keduanya menunjukkan ekspansi, yang berarti permintaan, produksi, dan ketenagakerjaan di sektor manufaktur lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.
Prabowo Menentang Segelintir Orang Kuasai Energi dan Mineral
Dosen Institut Teknologi Nasional mengatakan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah seperti emas, nikel, gas alam, dan batu bara, namun banyak rakyat hidup dalam kemiskinan. Jalan di desa-desa tambang berlubang, sekolah tua berdiri di atas tanah bernilai tinggi, dan anak-anak setiap hari menghirup debu. Dalam perdagangan komoditas terdapat kasus kecurangan lintas batas, pemalsuan dokumen, dan pemalsuan kualitas. Misalnya, batu bara kualitas rendah Indonesia dijual ke perantara asing seharga 28 dolar AS per ton, setelah "ditingkatkan" dijual kembali ke negara lain seharga 92 dolar AS per ton, selisih harga menghasilkan keuntungan besar. Jika ekspor batu bara 100 juta ton per tahun, selisih harga 20-60 dolar AS per ton, potensi keuntungan tahunan mencapai 20-6
Djarum Terus Menambah Kepemilikan Saham SSIA Lebih dari 400 Juta Lembar dalam Tiga Pekan
PT Dwimuria Investama Andalan, bagian dari Grup Djarum, terus menambah kepemilikan saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (kode saham SSIA). Dalam tiga pekan terakhir, total pembelian mencapai 426.482.600 lembar saham SSIA, sehingga kepemilikan naik menjadi 9,06%. Pada 4 Juli, pertama kali membeli 247.992.700 lembar; pada 15 Juli membeli 2.104.600 lembar, kepemilikan naik menjadi 5,89%; pada 21 Juli membeli 4.065.900 lembar; pada 22 Juli membeli 29.141.300 lembar; pada 23 Juli membeli 12.607.800 lembar; dan yang terbaru 4.500.000 lembar. Sejak awal pembelian pada 4 Juli hingga 25 Juli, harga saham SSIA naik 51,91% menjadi 2.590 poin. Pada 28 Juli pukul 15:01 WIB, harga saham naik 2,7% lagi menjadi 2.660 poin. Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik Prajogo Pangestu memiliki 284.846.365 lembar saham SSIA (6,05%) dan menjadi pemegang saham utama di atas 5% pada 15 Juli. Pada kuartal I 2025, SSIA mencatat rugi bersih Rp21,7 miliar (dibandingkan rugi Rp14,9 miliar tahun lalu, kerugian membesar); pendapatan Rp1,06 triliun (tahun lalu Rp1,09 triliun, menurun); beban operasional Rp86,87 miliar (tahun lalu Rp78,46 miliar, meningkat); laba kotor Rp19,94 miliar (tahun lalu Rp30,69 miliar, turun 35%)
Singapura Terus Perluas Investasi di Industri Energi Hijau Indonesia
Temasek Holdings dari Singapura terus memperluas peta investasinya di Indonesia, mencakup sektor energi hijau, kesehatan, telekomunikasi, ritel, dan lainnya, serta mendapat dukungan penuh dari pemerintah Indonesia. Pada 18 Juli 2025, Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia bertemu dengan Ketua Dewan Komisaris Singtel (Singapura) yang juga anggota Dewan Direksi Temasek di Jakarta. Kedua pihak membahas potensi kerja sama antara Temasek dan Badan Pengelola Investasi Danantara (BPI Danantara) Indonesia, dukungan terhadap transisi energi dan pengembangan kawasan industri hijau di Indonesia. Investasi Temasek di Indonesia telah berlangsung lama, melalui
Raksasa Bisnis Indonesia Masuki Sektor Properti Industri dan Kesehatan
CEO Grup Djarum Indonesia menjelaskan alasan grup melalui divisi investasi Dwimuria Investama Andalan memasuki bidang properti industri dan kesehatan. Grup menilai sektor properti industri dan kesehatan memiliki prospek cerah dan mampu mempertahankan kelangsungan bisnis di tengah ketidakpastian global. Ada juga "rasa tidak aman keluarga", khawatir bisnis inti yang ada (tembakau) mungkin hilang, merujuk pada contoh hilangnya industri lain (seperti minyak sawit, industri terkait Jepang). Ia menekankan grup dan tim memiliki kemampuan untuk menjalankan bisnis di bidang baru yang tidak terkait dengan bisnis inti.
Merek Cat China, Tiga Pohon, Merambah Pasar Indonesia
Pada Juli 2025, merek cat China, Tiga Pohon, berpartisipasi dalam Pameran Cat Indonesia 2025, membawa produk ramah lingkungan seperti cat artistik, cat batu alam, dan cat anti air, menampilkan inovasi, komitmen lingkungan, dan strategi internasionalisasi merek cat China. Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memiliki permintaan tinggi terhadap produk pelapis bangunan yang ramah lingkungan, tahan cuaca, dan estetis, serta standar bahan bangunan hijau yang meningkat, membuka peluang ekspor bagi merek cat China. Tiga Pohon, menyesuaikan dengan karakteristik bangunan dan iklim lembab panas di Asia Tenggara, memamerkan produk inti seperti cat batu alam, cat artistik, dan cat anti air, menarik banyak pakar industri dan pelanggan untuk berdiskusi. Tiga Pohon secara aktif
Perusahaan Teknologi Tinggi China Investasi Membangun Pabrik di Indonesia
Perusahaan teknologi tinggi China, Zhenbang Intelligent, berencana menggunakan dana sendiri tidak lebih dari 11 juta dolar AS (sekitar 79,2 juta yuan) untuk mendirikan anak perusahaan penuh di Singapura yaitu HOMEWOOD CONTROL PTE.LTD., dan melalui anak perusahaan di Hong Kong serta Singapura, mendirikan cucu perusahaan di Indonesia yaitu PT HOMEWOOD CONTROL SOLUTIONS untuk membangun pabrik di Indonesia. Cucu perusahaan di Indonesia memiliki modal dasar 20 miliar rupiah, dengan anak perusahaan Hong Kong memegang 30% saham dan anak perusahaan Singapura memegang 70% saham, disetor dalam bentuk dana sendiri secara tunai.