Aice, merek es krim terbesar di Indonesia, tim di baliknya berasal dari China? Ya, benar. Merek ini juga menjadi tamu undangan istimewa dalam acara dialog "Berangkat, ke Indonesia" yang sedang ditayangkan di CCTV-2 pada bulan Juli, bersama dengan Bapak Wang Jiacheng dan timnya. Merek es krim Aice didirikan di Indonesia pada tahun 2015. Hari ini, Manajer Wang akan membahasnya secara detail.
Pertama, pada tahun 2015, sebuah tim wirausaha yang terdiri dari lebih dari 10 orang dari China, sebagian besar pernah bekerja di Mengniu, tiba di Indonesia dan benar-benar memulai dari nol. Dari garasi bawah tanah seluas 15 meter persegi, mereka mendirikan perusahaan es krim Aice, namun berhasil menciptakan keajaiban pertumbuhan 60 kali lipat dalam 7 tahun, menjadi merek es krim terbesar di Indonesia. Pemimpin tim ini adalah Bapak Wang Jiacheng. Mengingat kembali perjalanan awal kewirausahaan, Pak Wang penuh makna.
Kedua, mengapa Aice bisa menciptakan keajaiban pertumbuhan? Bagi Aice yang baru memulai di pasar Indonesia, mereka tidak terburu-buru memasuki saluran modern yang memiliki lalu lintas tinggi tetapi dikuasai oleh merek-merek Eropa dan Amerika seperti Wall's. Sebaliknya, mereka menerapkan strategi "mengelilingi kota dari desa", dengan membidik saluran tradisional yang "kosong". Saluran tradisional mirip dengan toko kelontong (warung), jumlahnya sangat banyak dan memiliki potensi konsumsi yang besar, namun perlu negosiasi satu per satu, menghadapi kesulitan distribusi dan pengiriman (jalan sempit, pengiriman dengan sepeda motor), pasokan listrik yang terbatas, serta masalah pembudayaan kebiasaan konsumen. Semua ini tidak menyurutkan semangat tim Aice yang pekerja keras. Untuk mengatasi situasi pasokan listrik yang terbatas, tim berupaya memberikan selimut untuk menjaga suhu lemari es, membagikan generator untuk mengatasi pemadaman listrik, bahkan mengangkut es krim ke gudang berpendingin untuk membantu toko kecil mengatasi masalah operasional.
Ketiga, dalam 7 tahun, Aice telah membangun tiga pabrik di Indonesia, dan pabrik di Jawa Timur adalah pabrik paling canggih di Indonesia, sekaligus menjadi pabrik wisata industri yang ditunjuk. Setiap hari, hampir seribu orang berkunjung ke sana, dan bahkan dapat melihat langsung proses produksi es krim modern. Pabrik yang indah dipandang mata dan es krim yang langsung siap santap menjadi cara baru dalam membangun narasi merek, menjadi simbol integrasi Aice ke Indonesia.
Kunci kesuksesan Aice di Indonesia adalah tim inti yang berakar di Indonesia dengan mentalitas memulai dari nol, karena mentalitas manajer tidak akan berhasil di pasar Indonesia. Selain itu, kemampuan pengembangan produk, pemasaran dan saluran distribusi, serta kemampuan operasi rantai pasok tim juga mendukung pertumbuhan Aice di Indonesia. Meskipun menghadapi kendala bahasa, perbedaan budaya, dan pasar yang asing, Aice berhasil tumbuh 60 kali lipat dalam 8 tahun dari awal, menjadi merek es krim nomor satu dalam penjualan di Indonesia, sekaligus menjadi contoh sukses perusahaan China yang merambah Asia Tenggara.
Aice, merek es krim terbesar di Indonesia, tim di baliknya berasal dari China? Ya, benar. Merek ini juga menjadi tamu undangan istimewa dalam acara dialog "Berangkat, ke Indonesia" yang sedang ditayangkan di CCTV-2 pada bulan Juli, bersama dengan Bapak Wang Jiacheng dan timnya. Merek es krim Aice didirikan di Indonesia pada tahun 2015. Hari ini, Manajer Wang akan membahasnya secara detail.
Pertama, pada tahun 2015, sebuah tim wirausaha yang terdiri dari lebih dari 10 orang dari China, sebagian besar pernah bekerja di Mengniu, tiba di Indonesia dan benar-benar memulai dari nol. Dari garasi bawah tanah seluas 15 meter persegi, mereka mendirikan perusahaan es krim Aice, namun berhasil menciptakan keajaiban pertumbuhan 60 kali lipat dalam 7 tahun, menjadi merek es krim terbesar di Indonesia. Pemimpin tim ini adalah Bapak Wang Jiacheng. Mengingat kembali perjalanan awal kewirausahaan, Pak Wang penuh makna.
Kedua, mengapa Aice bisa menciptakan keajaiban pertumbuhan? Bagi Aice yang baru memulai di pasar Indonesia, mereka tidak terburu-buru memasuki saluran modern yang memiliki lalu lintas tinggi tetapi dikuasai oleh merek-merek Eropa dan Amerika seperti Wall's. Sebaliknya, mereka menerapkan strategi "mengelilingi kota dari desa", dengan membidik saluran tradisional yang "kosong". Saluran tradisional mirip dengan toko kelontong (warung), jumlahnya sangat banyak dan memiliki potensi konsumsi yang besar, namun perlu negosiasi satu per satu, menghadapi kesulitan distribusi dan pengiriman (jalan sempit, pengiriman dengan sepeda motor), pasokan listrik yang terbatas, serta masalah pembudayaan kebiasaan konsumen. Semua ini tidak menyurutkan semangat tim Aice yang pekerja keras. Untuk mengatasi situasi pasokan listrik yang terbatas, tim berupaya memberikan selimut untuk menjaga suhu lemari es, membagikan generator untuk mengatasi pemadaman listrik, bahkan mengangkut es krim ke gudang berpendingin untuk membantu toko kecil mengatasi masalah operasional.
Ketiga, dalam 7 tahun, Aice telah membangun tiga pabrik di Indonesia, dan pabrik di Jawa Timur adalah pabrik paling canggih di Indonesia, sekaligus menjadi pabrik wisata industri yang ditunjuk. Setiap hari, hampir seribu orang berkunjung ke sana, dan bahkan dapat melihat langsung proses produksi es krim modern. Pabrik yang indah dipandang mata dan es krim yang langsung siap santap menjadi cara baru dalam membangun narasi merek, menjadi simbol integrasi Aice ke Indonesia.
Kunci kesuksesan Aice di Indonesia adalah tim inti yang berakar di Indonesia dengan mentalitas memulai dari nol, karena mentalitas manajer tidak akan berhasil di pasar Indonesia. Selain itu, kemampuan pengembangan produk, pemasaran dan saluran distribusi, serta kemampuan operasi rantai pasok tim juga mendukung pertumbuhan Aice di Indonesia. Meskipun menghadapi kendala bahasa, perbedaan budaya, dan pasar yang asing, Aice berhasil tumbuh 60 kali lipat dalam 8 tahun dari awal, menjadi merek es krim nomor satu dalam penjualan di Indonesia, sekaligus menjadi contoh sukses perusahaan China yang merambah Asia Tenggara.