Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) angkat bicara mengenai rencana pemerintah untuk memotong produksi bijih nikel melalui evaluasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025. Sekretaris Jenderal APNI menyatakan bahwa pemotongan produksi akan menaikkan harga nikel global. Analis nikel global dari Macquarie Group menganalisis bahwa jika Indonesia memotong produksi bijih nikel menjadi 150 juta ton, harga nikel global akan naik dari saat ini 15.000-16.000 dolar AS per ton menjadi 20.000 dolar AS per ton. Pada tahun 2024, produksi bijih nikel Indonesia mencapai 2,9849 miliar ton; produksi tahun 2023 hampir 200 juta ton, sebenarnya 175,617183 juta ton, dan produksi nikel Indonesia pada 2023-2024 menyumbang 65% dari pasar nikel global. Pada 2023-2024, pasar global 'banjir' produk nikel, terutama karena peningkatan produksi nikel olahan seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel matte sebesar 30%. Hingga tahun 2023, total sumber daya bijih nikel Indonesia mencapai 18,550358128 miliar ton, dengan logam nikel 184,606736 juta ton; cadangan bijih nikel sebesar 5,325790841 miliar ton, cadangan logam nikel sebesar 56,117187 juta ton