Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan ada empat perusahaan China yang mengkaji proyek gasifikasi batubara menjadi dimetil eter (DME) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Hasil kajian masing-masing perusahaan berbeda; ada yang menilai proyek tersebut tidak layak di Indonesia, ada pula yang menghasilkan Internal Rate of Return (IRR) yang berbeda. Kementerian ESDM meminta perusahaan-perusahaan tersebut memberikan contoh perhitungan agar kajian proyek tidak hanya bersifat teoretis. Saat ini setiap negara lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya. Ketua Komisi terkait DPR menyarankan pemerintah agar tidak hanya bergantung pada satu negara dalam memajukan teknologi proyek DME batubara Indonesia. Menteri Energi pernah menyebutkan bahwa proyek ini akan menggunakan transfer teknologi dari Amerika Serikat dan China. Sebelumnya proyek ini ditangani oleh PTBA dengan investasi dari APCI Amerika Serikat, yang berencana memproduksi 1,4 juta ton DME per tahun. Namun pada tahun 2023 APCI mundur, sehingga nasib proyek tidak menentu dan sebelumnya telah banyak dikritik karena dianggap tidak ekonomis, biaya penggantian impor LPG mahal, serta teknologinya mahal. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia juga menyampaikan pandangan serupa.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan ada empat perusahaan China yang mengkaji proyek gasifikasi batubara menjadi dimetil eter (DME) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Hasil kajian masing-masing perusahaan berbeda; ada yang menilai proyek tersebut tidak layak di Indonesia, ada pula yang menghasilkan Internal Rate of Return (IRR) yang berbeda. Kementerian ESDM meminta perusahaan-perusahaan tersebut memberikan contoh perhitungan agar kajian proyek tidak hanya bersifat teoretis. Saat ini setiap negara lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya. Ketua Komisi terkait DPR menyarankan pemerintah agar tidak hanya bergantung pada satu negara dalam memajukan teknologi proyek DME batubara Indonesia. Menteri Energi pernah menyebutkan bahwa proyek ini akan menggunakan transfer teknologi dari Amerika Serikat dan China. Sebelumnya proyek ini ditangani oleh PTBA dengan investasi dari APCI Amerika Serikat, yang berencana memproduksi 1,4 juta ton DME per tahun. Namun pada tahun 2023 APCI mundur, sehingga nasib proyek tidak menentu dan sebelumnya telah banyak dikritik karena dianggap tidak ekonomis, biaya penggantian impor LPG mahal, serta teknologinya mahal. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia juga menyampaikan pandangan serupa.