Bendungan PLTA Batang Toru yang dibangun oleh perusahaan Tiongkok telah mencapai puncak penuh (top off) di seluruh bentang, sebuah tonggak besar dalam konstruksi proyek. Proyek ini mempercepat pembangunan setelah mendapat persetujuan pada November 2021. Pembangunan bendungan dimulai pada Januari 2022, pengalihan sungai dilakukan pada Juli 2023, dan pengecoran beton pertama selesai pada November 2023. Bendungan terletak di Sungai Batang Toru, Provinsi Sumatera Utara, dan merupakan proyek strategis nasional Indonesia. Bendungan ini merupakan bendungan gravitasi beton melengkung dengan elevasi puncak 436 meter, panjang 140,27 meter, tinggi maksimum 74 meter, total kapasitas terpasang 510 MW, dan perkiraan produksi listrik tahunan 2.228,14 GWh. Tim teknis berhasil mengoptimalkan desain, memperkuat pengelolaan lapangan, dan memastikan konstruksi bendungan berkualitas tinggi dan efisien meskipun menghadapi kondisi geologis yang kompleks dan tantangan konstruksi. Sebagai contoh kerja sama energi antara Tiongkok dan Indonesia serta praktik pembangunan hijau dalam kerangka "Sabuk dan Jalan", PLTA ini memanfaatkan energi air untuk menghasilkan listrik, mengurangi tekanan listrik lokal, memperbaiki struktur energi di Pulau Sumatera, mengurangi konsumsi batu bara dan emisi gas rumah kaca, serta mendukung perlindungan lingkungan dan pembangunan ekonomi.
Bendungan PLTA Batang Toru yang dibangun oleh perusahaan Tiongkok telah mencapai puncak penuh (top off) di seluruh bentang, sebuah tonggak besar dalam konstruksi proyek. Proyek ini mempercepat pembangunan setelah mendapat persetujuan pada November 2021. Pembangunan bendungan dimulai pada Januari 2022, pengalihan sungai dilakukan pada Juli 2023, dan pengecoran beton pertama selesai pada November 2023. Bendungan terletak di Sungai Batang Toru, Provinsi Sumatera Utara, dan merupakan proyek strategis nasional Indonesia. Bendungan ini merupakan bendungan gravitasi beton melengkung dengan elevasi puncak 436 meter, panjang 140,27 meter, tinggi maksimum 74 meter, total kapasitas terpasang 510 MW, dan perkiraan produksi listrik tahunan 2.228,14 GWh. Tim teknis berhasil mengoptimalkan desain, memperkuat pengelolaan lapangan, dan memastikan konstruksi bendungan berkualitas tinggi dan efisien meskipun menghadapi kondisi geologis yang kompleks dan tantangan konstruksi. Sebagai contoh kerja sama energi antara Tiongkok dan Indonesia serta praktik pembangunan hijau dalam kerangka "Sabuk dan Jalan", PLTA ini memanfaatkan energi air untuk menghasilkan listrik, mengurangi tekanan listrik lokal, memperbaiki struktur energi di Pulau Sumatera, mengurangi konsumsi batu bara dan emisi gas rumah kaca, serta mendukung perlindungan lingkungan dan pembangunan ekonomi.