Investor China belakangan ini membanjiri Indonesia, mendorong kenaikan harga properti industri hingga 25% dan mengaktifkan kawasan industri di Jawa Barat. Fenomena ini terutama disebabkan oleh Amerika Serikat yang mengenakan tarif impor lebih dari 30% terhadap barang China, sementara tarif untuk barang Indonesia hanya 19%, sehingga perusahaan China berekspansi atau memindahkan bisnis ke Indonesia untuk menghindari tarif tinggi. Selain itu, Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara memiliki potensi pasar konsumen yang besar, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 mencapai 5,12%, tertinggi dalam dua tahun terakhir. Struktur penduduk yang muda, dengan banyak talenta dan tenaga kerja, menarik investor asing untuk segera memperluas skala di Indonesia. Pada semester I-2025, investasi China dan Hong Kong di Indonesia tumbuh 6,5% year-on-year, mencapai USD 8,2 miliar. Investasi langsung asing (PMA) Indonesia tumbuh 2,58% menjadi Rp 432,6 triliun, dan pemerintah optimistis terhadap pertumbuhan investasi di semester II. Permintaan kawasan industri seperti Subang Smartpolitan di Jawa Barat melonjak tajam, harga properti industri dan gudang pada kuartal I-2025 naik 15-25% year-on-year, kenaikan tercepat dalam 20 tahun terakhir, misalnya sewa gedung perkantoran di Jakarta naik 43% dibanding tahun lalu. Perusahaan konsultan terkati sibuk, seperti PT Yard Zeal Indonesia yang karyawannya bertambah dari 4 orang pada 2021 menjadi lebih dari 40 orang, dan setiap hari ada perusahaan China yang berkonsultasi mengenai kebutuhan lahan industri, sebagian besar mencari fasilitas siap pakai. Namun, Indonesia masih menghadapi birokrasi yang rumit, infrastruktur yang belum sempurna, dan rantai pasok industri yang tidak selengkap China. Sebagian investor bersikap hati-hati terhadap kebijakan fiskal Presiden Prabowo (termasuk program makan gratis untuk anak sekolah dan ibu hamil). Seorang produsen lampu depan motor asal China menilai di Indonesia relatif mudah mencapai margin laba bersih 20%-30%, sementara di China hanya sekitar 3%; dengan membangun kehadiran bisnis yang kuat di Indonesia, pada dasarnya bisa menguasai setengah pasar Asia Tenggara. Kepala perwakilan Bank of America di Indonesia berpendapat struktur penduduk yang muda dan tenaga kerja yang besar adalah daya tarik utama. Direktur ASEAN Dezan Shira & Associates menyatakan selain diversifikasi rantai pasok, pasar konsumen domestik Indonesia yang besar merupakan keunggulan langka di kawasan ini.