Kepala Badan Pengawas BUMN Indonesia dan Direktur Operasional Lembaga Pengelola Investasi mengungkapkan bahwa negosiasi restrukturisasi utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung tidak hanya mencakup jangka waktu pembayaran 60 tahun yang diajukan China, tetapi juga isu-isu inti seperti pembayaran bunga dan mata uang pembayaran. Mantan Menteri Koordinator Perekonomian Luhut pernah menyebutkan kemungkinan perpanjangan jangka waktu pembayaran hingga 60 tahun, namun ia menegaskan bahwa perjanjian terkait belum final, dan tim negosiasi Indonesia akan kembali ke China dalam waktu dekat untuk konsultasi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menanggapi bahwa sejak beroperasi pada 2023, Kereta Cepat Jakarta-Bandung berjalan aman dan stabil, telah mengangkut lebih dari 11,71 juta penumpang, menciptakan banyak lapangan kerja dan mendorong pembangunan ekonomi di sepanjang jalur. Ia menekankan bahwa evaluasi proyek harus mempertimbangkan manfaat sosial secara menyeluruh, bukan hanya data keuangan, dan menegaskan kembali kesediaan China untuk terus mendukung operasi berkualitas tinggi. Saat ini, titik perbedaan antara kedua pihak meliputi rencana jangka waktu pembayaran 60 tahun yang belum mendapat konfirmasi akhir; tingkat suku bunga dan kemungkinan penyelesaian mata uang lokal masih harus ditentukan; delegasi Indonesia berencana untuk mengunjungi China dalam waktu dekat guna memperdalam diskusi. Negosiasi restrukturisasi utang ini menyoroti koordinasi berkelanjutan antara China dan Indonesia dalam pembiayaan proyek-proyek besar, di mana posisi China yang berorientasi pada manfaat sosial dan permintaan Indonesia untuk mencari persyaratan keuangan yang lebih baik membentuk keseimbangan dinamis.