Kementerian Perindustrian menargetkan Indonesia menjadi pusat manufaktur furnitur global, melalui penguatan industri hilir kayu berkelanjutan dan peningkatan daya saing industri nasional. Menteri Perindustrian menyatakan bahwa industri furnitur adalah model utama hilirisasi kayu, termasuk industri padat karya yang mampu menciptakan nilai tambah tinggi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Pasar furnitur global bernilai lebih dari US$736,21 miliar, Indonesia berencana dalam lima tahun ke depan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memimpin dalam bidang desain dan keberlanjutan. Pada tahun 2025, industri pengolahan manufaktur Indonesia tumbuh 5,30%, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11%, untuk pertama kalinya dalam 14 tahun melampaui; kontribusi manufaktur terhadap PDB mencapai 19,07%, nilai tambah manufaktur (MVA) sebesar US$265,07 miliar, peringkat ke-13 global dan pertama di ASEAN. Namun, industri furnitur Indonesia masih menghadapi tantangan: pada tahun 2025, ekspor turun 3% menjadi US$1,85 miliar, sementara impor naik 6% menjadi US$820 juta. Hal ini juga dipengaruhi oleh geopolitik global, logistik, dan Peraturan Deforestasi Uni Eropa (EUDR) yang baru. Kementerian Perindustrian mencatat bahwa Indonesia memiliki sistem sertifikasi legalitas dan keberlanjutan SVLK, yang menjadi basis daya saing yang kuat. Untuk meningkatkan produktivitas, telah dilaksanakan program revitalisasi peralatan pengolahan kayu yang memberikan manfaat bagi 35 perusahaan, dengan total subsidi Rp26,1 miliar, yang menghasilkan peningkatan efisiensi produksi sebesar 10,7%, kualitas produk meningkat 36,28%, dan produktivitas naik 32,65%.