Presiden Indonesia Prabowo Subianto, dalam wawancara dengan Bloomberg, menyampaikan pandangan penting mengenai situasi internasional terkini dan kebijakan pertahanan Indonesia. Ia mengaku cukup terkejut dengan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dan secara terus terang menyatakan tidak melihat dasar rasional dan legitimasi dari aksi militer tersebut, yang dinilai meningkatkan ketegangan regional. Menanggapi kekhawatiran luar bahwa China dapat memanfaatkan gejolak di Timur Tengah untuk bertindak dalam masalah Taiwan, Prabowo meredamnya. Ia menunjukkan bahwa pemimpin China saat ini berfokus pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari konflik terbuka, sehingga kemungkinan eskalasi besar dalam ketegangan terkait dinilai rendah. Dalam hal pertahanan dan pengadaan persenjataan, Prabowo mengonfirmasi bahwa Indonesia sedang mempertimbangkan pembelian peralatan pertahanan buatan China, seraya menegaskan bahwa Indonesia berhak membeli senjata dari negara mana pun dan tidak akan membentuk aliansi militer dengan negara besar mana pun karenanya. Ia kembali menegaskan bahwa Indonesia tetap berpegang pada sikap non-blok, menjaga hubungan baik dengan semua negara tetangga, dan postur pertahanannya sepenuhnya defensif. Ia secara tegas menyatakan bahwa Indonesia tidak dapat menjadi anggota aliansi militer mana pun, dan jika terjadi sesuatu, Indonesia tidak dapat bergantung pada pihak mana pun. Indonesia sebelumnya telah menunjukkan minat pada pesawat tempur Chengdu J-10 (J-10 buatan China), sistem pertahanan udara, serta sejumlah kapal perang buatan China, namun hingga saat ini rencana pembelian tersebut belum ada perkembangan lebih lanjut. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Indonesia saat ini lebih cenderung mempertimbangkan pembelian pesawat tempur generasi 4,5 JF-17 "Thunder" Block III hasil pengembangan bersama Pakistan dan China. Pihak Pakistan telah menawarkan pesawat tersebut kepada Indonesia, dan bersedia menyertakan sejumlah kerja sama militer sebagai kompensasi pendamping, memberikan opsi persenjataan baru bagi Indonesia. Secara keseluruhan, di tengah semakin kompleksnya geopolitik global, Indonesia tetap menjalankan strategi diplomasi dan pertahanan yang independen dan tidak memihak. Di satu sisi, Indonesia menyatakan kekhawatiran atas eskalasi konflik di Timur Tengah, dan di sisi lain secara aktif memperluas sumber pengadaan peralatan pertahanan guna memperkuat kapasitas pertahanan sendiri serta menjaga keamanan strategis dan posisi otonom negara.