Nilai impor Indonesia dari Tiongkok terus meningkat, dengan lonjakan signifikan pada komoditas seperti mutiara dan sutra. Menurut data Kementerian Perdagangan, total impor Indonesia dari Tiongkok pada Januari–Desember 2025 mencapai 87,54 miliar dolar AS, naik 18,53% year-on-year. Struktur pertumbuhan menunjukkan diferensiasi yang jelas, dengan beberapa komoditas tumbuh jauh di atas rata-rata, mencerminkan perubahan struktural dalam permintaan pasar domestik Indonesia. Berdasarkan kode HS 2 digit, kategori dengan kenaikan tertinggi terkonsentrasi pada barang konsumsi bernilai tinggi, bahan baku industri, dan barang modal. Kategori HS71 (mutiara, batu mulia, logam mulia, dan imitasi perhiasan) mencatat lonjakan paling mencengangkan, dengan nilai impor 535,51 juta dolar AS, melonjak 712,57% year-on-year, menunjukkan peningkatan aktivitas perdagangan perhiasan, barang bernilai tinggi, dan industri kreatif di Indonesia, sebagian juga untuk kebutuhan re-ekspor.
Peringkat kedua adalah kendaraan bermotor dalam keadaan dibongkar (HS98), dengan nilai impor 264,74 juta dolar AS, naik 402,42%, terutama diimpor dalam bentuk komponen untuk optimalisasi tarif dan perakitan lokal, mencerminkan tren perluasan kapasitas produksi otomotif dalam negeri Indonesia. Produk industri penggilingan (HS11) seperti pati, malt, gluten naik 242,43% dengan nilai 29,04 juta dolar AS, sesuai dengan ekspansi permintaan industri makanan olahan domestik. Dalam bahan baku tekstil premium, sutra (HS50) naik 130,36%, meskipun nilainya hanya 4,61 juta dolar AS, namun menunjukkan peningkatan permintaan industri fashion dan segmen bernilai tambah tinggi. Di sektor perkeretaapian, lokomotif dan peralatan kereta api (HS86) naik 127,10% dengan nilai 351,64 juta dolar AS, sejalan dengan ekspansi infrastruktur kereta api dan modernisasi armada di Indonesia. Komoditas lain dengan pertumbuhan tinggi termasuk gabus, bahan anyaman tanaman, produk kimia campuran, kapal dan struktur terapung, serta produk nikel. Produk kimia memiliki nilai impor hingga 2,9 miliar dolar AS, naik 81,17%, menunjukkan ketergantungan tinggi industri lokal terhadap bahan baku kimia impor; produk nikel naik 65,02%, meskipun Indonesia adalah produsen nikel utama, namun beberapa produk hilir tertentu masih perlu diimpor. Dalam kategori yang lebih rinci berdasarkan kode HS 6 digit, beberapa komoditas mencatat lonjakan year-on-year hingga jutaan atau puluhan juta persen karena basis rendah tahun sebelumnya, misalnya mesin turbofan dengan daya dorong di atas 25 kN, gerbong non-motor, komponen kapal dari baja tahan karat, drone ukuran sedang, dan ferrochrome.
Namun, lonjakan ultra-tinggi ini lebih dipengaruhi oleh efek basis dan transaksi besar tunggal, sehingga interpretasi harus dikombinasikan dengan nilai absolut dan skenario penggunaan aktual. Secara keseluruhan, struktur impor Indonesia dari Tiongkok pada 2025 jelas mengarah pada tiga bidang utama: bahan baku industri, komponen manufaktur kunci, dan peralatan transportasi, mencerminkan perkembangan industrialisasi, peningkatan infrastruktur, dan pertumbuhan konsumsi domestik secara bersamaan di Indonesia.
Nilai impor Indonesia dari Tiongkok terus meningkat, dengan lonjakan signifikan pada komoditas seperti mutiara dan sutra. Menurut data Kementerian Perdagangan, total impor Indonesia dari Tiongkok pada Januari–Desember 2025 mencapai 87,54 miliar dolar AS, naik 18,53% year-on-year. Struktur pertumbuhan menunjukkan diferensiasi yang jelas, dengan beberapa komoditas tumbuh jauh di atas rata-rata, mencerminkan perubahan struktural dalam permintaan pasar domestik Indonesia. Berdasarkan kode HS 2 digit, kategori dengan kenaikan tertinggi terkonsentrasi pada barang konsumsi bernilai tinggi, bahan baku industri, dan barang modal. Kategori HS71 (mutiara, batu mulia, logam mulia, dan imitasi perhiasan) mencatat lonjakan paling mencengangkan, dengan nilai impor 535,51 juta dolar AS, melonjak 712,57% year-on-year, menunjukkan peningkatan aktivitas perdagangan perhiasan, barang bernilai tinggi, dan industri kreatif di Indonesia, sebagian juga untuk kebutuhan re-ekspor.
Peringkat kedua adalah kendaraan bermotor dalam keadaan dibongkar (HS98), dengan nilai impor 264,74 juta dolar AS, naik 402,42%, terutama diimpor dalam bentuk komponen untuk optimalisasi tarif dan perakitan lokal, mencerminkan tren perluasan kapasitas produksi otomotif dalam negeri Indonesia. Produk industri penggilingan (HS11) seperti pati, malt, gluten naik 242,43% dengan nilai 29,04 juta dolar AS, sesuai dengan ekspansi permintaan industri makanan olahan domestik. Dalam bahan baku tekstil premium, sutra (HS50) naik 130,36%, meskipun nilainya hanya 4,61 juta dolar AS, namun menunjukkan peningkatan permintaan industri fashion dan segmen bernilai tambah tinggi. Di sektor perkeretaapian, lokomotif dan peralatan kereta api (HS86) naik 127,10% dengan nilai 351,64 juta dolar AS, sejalan dengan ekspansi infrastruktur kereta api dan modernisasi armada di Indonesia. Komoditas lain dengan pertumbuhan tinggi termasuk gabus, bahan anyaman tanaman, produk kimia campuran, kapal dan struktur terapung, serta produk nikel. Produk kimia memiliki nilai impor hingga 2,9 miliar dolar AS, naik 81,17%, menunjukkan ketergantungan tinggi industri lokal terhadap bahan baku kimia impor; produk nikel naik 65,02%, meskipun Indonesia adalah produsen nikel utama, namun beberapa produk hilir tertentu masih perlu diimpor. Dalam kategori yang lebih rinci berdasarkan kode HS 6 digit, beberapa komoditas mencatat lonjakan year-on-year hingga jutaan atau puluhan juta persen karena basis rendah tahun sebelumnya, misalnya mesin turbofan dengan daya dorong di atas 25 kN, gerbong non-motor, komponen kapal dari baja tahan karat, drone ukuran sedang, dan ferrochrome.
Namun, lonjakan ultra-tinggi ini lebih dipengaruhi oleh efek basis dan transaksi besar tunggal, sehingga interpretasi harus dikombinasikan dengan nilai absolut dan skenario penggunaan aktual. Secara keseluruhan, struktur impor Indonesia dari Tiongkok pada 2025 jelas mengarah pada tiga bidang utama: bahan baku industri, komponen manufaktur kunci, dan peralatan transportasi, mencerminkan perkembangan industrialisasi, peningkatan infrastruktur, dan pertumbuhan konsumsi domestik secara bersamaan di Indonesia.