Pada tahun 2015, saat pertama kali seorang investor ventura dari China mengunjungi Indonesia, regulator setempat menunjukkan minat yang besar terhadap Alipay, yang membuatnya terkesan. Pada tahun 2021, ia ikut mendirikan aplikasi pembayaran online serupa Alipay bernama Yup, yang terutama melayani kelas pekerja di Indonesia, yang seringkali kesulitan mendapatkan layanan perbankan lokal yang memadai. Ia menyebut Indonesia sebagai tempat yang sangat menarik untuk memulai bisnis, sebagai pasar berkembang besar yang jaraknya cukup dekat dengan China dan memiliki tingkat penetrasi smartphone yang sangat tinggi. Ia hanyalah salah satu dari banyak orang China yang bekerja dan berwirausaha di Indonesia. Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, dengan 290 juta jiwa. Data Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2024, Indonesia menerbitkan lebih dari 100.000 izin tinggal bagi warga China, jumlahnya lebih dari dua kali lipat total semua negara lain, meningkat signifikan dari 80.000 pada tahun 2023. Seorang pengusaha Tionghoa-Indonesia mencatat bahwa angka sebenarnya lebih tinggi, karena banyak warga China awalnya masuk dengan visa turis dan secara bertahap membangun bisnis mereka. Pengusaha China yang baru datang menjalankan berbagai bisnis di Indonesia, mulai dari restoran, ruang pelarian (escape room), hingga perusahaan properti dan sekolah bahasa. Banyak model bisnis yang langsung ditiru dari China, dengan harapan para pengusaha dapat menghindari perlambatan ekonomi dan persaingan ketat di dalam negeri. Di antaranya, aplikasi pembayaran Yup berkembang sangat sukses, dengan lebih dari 2 juta akun aktif, menyelesaikan enam putaran pendanaan lebih dari 100 juta dolar AS, dan hampir mencapai titik impas. Operasi layanan pelanggan perusahaan berlokasi di Jakarta, pusat penelitian dan pengembangan di Shanghai. Ia berencana memperluas bisnis ke negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam beberapa tahun ke depan. Merek-merek terkenal China juga berekspansi di Indonesia. Beberapa tahun lalu, mobil listrik China masih jarang terlihat di jalanan Jakarta, kini sudah ada di mana-mana. Pada paruh pertama tahun 2025, merek China menguasai lebih dari 90% penjualan mobil listrik di Indonesia. BYD berinvestasi lebih dari 1 miliar dolar AS untuk membangun pabrik di Jawa Barat dengan kapasitas produksi 150.000 mobil per tahun. GAC Aion, Xpeng, dan Wuling telah memulai produksi lokal. Seorang pengusaha China yang bekerja di perusahaan Indonesia mengatakan bahwa Indonesia saat ini mirip dengan China pada tahun 1980-an, penuh dengan peluang pembangunan. Salah satu alasan penting Indonesia menarik produsen mobil listrik adalah karena memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, yang merupakan bahan baku utama untuk pembuatan baterai beberapa mobil listrik. Perusahaan China telah menguasai tiga perempat kapasitas pemurnian nikel di Indonesia dan membangun infrastruktur terkait untuk mengolah nikel menjadi baterai daya. Produsen baterai terbesar dunia, CATL, sedang membangun pabrik baterai terintegrasi di Jawa Barat, sementara Huayou Cobalt menggantikan LG asal Korea Selatan sebagai mitra utama proyek baterai lainnya. Total investasi pihak China dalam dua proyek besar ini mencapai hampir 10 miliar dolar AS. Kota baru PIK yang dibangun di atas lahan reklamasi di Jakarta Utara telah menjadi kawasan pemukiman populer bagi pendatang baru China. Kawasan ini berukuran sekitar dua pertiga dari Manhattan, dengan apartemen mewah dan pusat perbelanjaan yang menampung banyak merek China, termasuk Tan Yu, Haidilao, dan Mixue. Mixue telah memiliki 2.600 gerai di Indonesia, menjadikannya pasar terbesar merek ini di luar China. Namun, sebagian warga Tionghoa-Indonesia masih ragu untuk tinggal di PIK karena mereka masih ingat kerusuhan anti-Cina tahun 1998 yang menewaskan ratusan etnis Tionghoa, dan khawatir kawasan tersebut akan menjadi sasaran jika peristiwa serupa terjadi lagi. Para pengusaha China yang berdatangan besar-besaran optimis dengan masa depan Indonesia, sementara minoritas Tionghoa-Indonesia berdoa agar tragedi sejarah tidak terulang kembali.