Pada 30 September, produsen baterai lithium terbesar di dunia dan produsen foil tembaga elektrolitik, Nuode, menandatangani nota kesepahaman dengan IBC (Indonesia Battery Corporation). Cakupan kerjasama nota kesepahaman ini meliputi studi pasar baterai lithium-ion dan foil tembaga PCB, serta pembahasan rencana investasi untuk mendirikan joint venture foil tembaga. Pimpinan IBC menyatakan sangat mendukung langkah ini untuk mendorong Indonesia menjadi pusat produksi industri baterai global, yang dapat memasok produk baterai dan komponen baterai ke Uni Eropa, Amerika, dan Asia. Ketua Dewan Nuode, Chen Lizhi, menyatakan bahwa dengan memanfaatkan sumber daya tembaga yang melimpah di Indonesia, Indonesia akan menjadi pusat pengembangan pasar Nuode di kawasan ASEAN, dan Nuode sangat senang menjadi mitra IBC dalam membangun ekosistem material energi baru untuk baterai. Nuode adalah perusahaan pertama di China yang mengembangkan dan memproduksi foil tembaga elektrolitik secara mandiri. Produknya terutama digunakan dalam baterai lithium dan produk komunikasi elektronik 5G. Foil tembaga lithium yang diproduksi Nuode memiliki pangsa pasar lebih dari 35% di pasar foil tembaga domestik China dan lebih dari 20% di pasar internasional, menjadikannya pemasok utama material foil tembaga lithium untuk kendaraan energi baru internasional. Cadangan nikel Indonesia menempati urutan pertama di dunia, yaitu 25% dari cadangan dunia. Dalam sepuluh tahun terakhir, perusahaan-perusahaan China yang dipimpin oleh Tsingshan telah berinvestasi di industri pertambangan nikel Indonesia, tidak hanya memberikan keuntungan besar bagi China dalam rantai pasokan bahan baku baterai stainless steel dan energi baru, tetapi juga menarik semakin banyak perusahaan hulu dan hilir baterai energi baru China, termasuk CATL, BYD, Gotion High-Tech, REPT, Lopal Tech, GEM, BTR, Hailiang, Nuode, dan lainnya untuk berinvestasi di Indonesia. Hal ini sekaligus membantu pemerintah Indonesia memanfaatkan keunggulan sumber daya nikel dan tembaga untuk membangun rantai industri lengkap mulai dari bahan baku baterai hulu, produksi baterai, hingga kendaraan listrik utuh di hilir, menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur kendaraan listrik di ASEAN.