Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Arus Kerja menyatakan bahwa dalam dua tahun terakhir, banyak barang impor masuk, menyebabkan 60% anggota usaha kecil dan menengah berhenti beroperasi, 50% berjuang untuk bertahan, karena harga barang impor murah, diduga impor ilegal, perusahaan lokal sulit bersaing, sehingga melakukan PHK dan menutup pabrik. Ia berharap pasar domestik yang lebih besar bagi UKM tekstil, menilai daya beli Indonesia kuat dan inflasi rendah, jika lokal menguasai setidaknya 70% pasar, UKM akan maju. Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Filamen Indonesia mendesak pemerintah untuk memperhatikan model impor grosir/inkubasi, seperti membedakan impor jalur merah dan hijau di pelabuhan, menunjukkan pemerintah melonggarkan impor, misalnya dengan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 8/2024, dan juga menyebut sistem pemeriksaan bea cukai Indonesia tertinggal dibanding negara tetangga, upaya perbaikan ditolak.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Arus Kerja menyatakan bahwa dalam dua tahun terakhir, banyak barang impor masuk, menyebabkan 60% anggota usaha kecil dan menengah berhenti beroperasi, 50% berjuang untuk bertahan, karena harga barang impor murah, diduga impor ilegal, perusahaan lokal sulit bersaing, sehingga melakukan PHK dan menutup pabrik. Ia berharap pasar domestik yang lebih besar bagi UKM tekstil, menilai daya beli Indonesia kuat dan inflasi rendah, jika lokal menguasai setidaknya 70% pasar, UKM akan maju. Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Filamen Indonesia mendesak pemerintah untuk memperhatikan model impor grosir/inkubasi, seperti membedakan impor jalur merah dan hijau di pelabuhan, menunjukkan pemerintah melonggarkan impor, misalnya dengan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 8/2024, dan juga menyebut sistem pemeriksaan bea cukai Indonesia tertinggal dibanding negara tetangga, upaya perbaikan ditolak.