Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Februari 2025, impor tekstil dan produk tekstil dari China oleh Indonesia turun sebesar 141,1 juta dolar AS secara bulanan, atau menurun 36,6%. Total impor bulan tersebut mencapai 606,8 juta dolar AS, turun 20,74%. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat pada Februari tercatat paling besar, yaitu 17,4 juta dolar AS, meningkat 4,13% dibandingkan Januari, dengan total ekspor bulanan mencapai 1,02 miliar dolar AS, dan surplus perdagangan Indonesia terhadap AS sebesar 1,57 miliar dolar AS. Selain itu, Kementerian Perindustrian mencatat lonjakan investasi di sektor tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki dalam negeri. Investasi pada tahun 2023 hanya sebesar 29,92 triliun rupiah, pada tahun 2024 meningkat 31,1% menjadi 39,21 triliun rupiah. Pada triwulan I tahun 2025, telah diterbitkan izin usaha bagi empat perusahaan tekstil dan pakaian jadi, yang diperkirakan akan menyerap 1.907 tenaga kerja. Dengan populasi Indonesia mencapai 281,6 juta jiwa, potensi pasar produk pakaian jadi, alas kaki, dan aksesoris kepala diperkirakan mencapai 119,82 triliun rupiah. Kebijakan tarif baru AS terhadap Kanada, Meksiko, dan China memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperluas pangsa pasar di AS. Kementerian Perindustrian juga sedang memperkuat ekosistem industri tekstil dan alas kaki melalui berbagai kebijakan strategis.