Kawasan Industri Morowali (IMIP) sebagai pusat pengolahan nikel berhasil menarik banyak investasi asing. Pada 2015-2024, investasi mencapai 34,3 miliar USD (sekitar 562,52 triliun IDR), ekspor menghasilkan devisa 15,4 miliar USD (sekitar 252,56 triliun IDR). Banyak perusahaan dari China, Australia, India, Jepang, dan Korea Selatan telah masuk, saat ini 51 penyewa telah berproduksi, mencakup tiga klaster industri: baja tahan karat, baja karbon, dan bahan baku baterai kendaraan listrik. Kawasan ini menciptakan banyak lapangan kerja bagi masyarakat setempat, dengan 85.000 karyawan Indonesia, terutama dari wilayah Sulawesi, sekitar 30% di antaranya berasal dari Kabupaten Morowali. Selain itu belum termasuk kontraktor, tenaga alih daya, dan tenaga kerja asing, secara efektif mendorong lapangan kerja di wilayah sekitarnya. Untuk menarik lebih banyak investasi, IMIP menyusun tiga strategi. Pertama, memastikan kepastian hukum, mencakup regulasi, perizinan, dukungan fiskal, dan kemudahan berusaha; kedua, meningkatkan efisiensi melalui pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, bandara, serta menyediakan fasilitas medis, termasuk membangun rumah sakit untuk menangani kecelakaan serius, guna mendukung penyewa; ketiga, mendorong pembangunan berkelanjutan dengan terus melakukan inisiatif terkait, seperti meningkatkan kapasitas produksi dan mengembangkan sumber daya manusia lokal.