Menteri Perdagangan baru-baru ini mengungkapkan bahwa surplus neraca perdagangan barang Indonesia menyusut drastis, mencapai titik terendah dalam 60 bulan. Di satu sisi, penurunan ekspor menjadi penyebab utama, dipengaruhi oleh kebijakan tarif AS dan faktor libur Ramadan. Dalam pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN juga dibahas dampak kebijakan tarif Trump yang tidak hanya menurunkan ekspor Indonesia ke AS, tetapi juga ke negara lain, sehingga banyak eksportir bersikap wait and see. Di sisi lain, impor melonjak tajam, terutama dari China. Namun ia menyatakan belum ada indikasi bahwa hal ini disebabkan oleh kebijakan Trump yang mendorong China melakukan re-ekspor ke Indonesia. China tetap menjadi mitra dagang terbesar Indonesia, dan nilai ekspor Indonesia ke China cukup tinggi. Menurut data Badan Pusat Statistik, pada April 2025 surplus perdagangan Indonesia hanya mencapai 160 juta dolar AS, tekanan berasal dari lonjakan impor di sektor non-migas yang tumbuh hampir 30% secara tahunan. Total ekspor April mencapai 20,74 miliar dolar AS, naik 5,76% year-on-year; impor mencapai 20,59 miliar dolar AS, melonjak 21,84% year-on-year, di mana impor non-migas melonjak 29,86% sementara impor migas turun 15,57%. China merupakan negara asal utama impor non-migas Indonesia dengan pangsa 39,48%.