Kawasan Industri Morowali (IMIP) mendorong perkembangan usaha kecil menengah (UKM) lokal. Dalam lima tahun terakhir, jumlah perusahaan di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah melonjak 62,7%, dan pada Maret 2025 jumlah perusahaan kembali meningkat menjadi 7.643 unit. Pertumbuhan signifikan terjadi pada tahun 2023, dengan 6.617 unit pada Februari dan meningkat menjadi 7.299 unit pada Agustus; pertumbuhan melambat pada tahun 2024, hanya naik tipis menjadi 7.318 unit. Keberadaan Kawasan Industri IMIP sangat mendorong perkembangan UMKM lokal, di mana UMKM setempat bermunculan seperti jamur, deretan kios, lapak, dan bangunan toko semi-permanen menjadi pemandangan yang ramai dalam kehidupan masyarakat. Aktivitas UMKM lokal menyerap hingga 16.705 tenaga kerja, terutama toko kelontong yang juga menjual bahan bakar (981 unit), lapak minuman (735 unit), dan lapak makanan semi-permanen (670 unit), serta kios (648 unit), restoran (591 unit), konter ponsel (274 unit) dan bengkel (274 unit), serta toko pakaian, sepatu, dan alat pelindung (263 unit) serta kios menengah (246 unit) dan lain-lain. Pada tahun 2024, jumlah UKM lokal tumbuh 14,9%, hal ini erat kaitannya dengan arus masuk penduduk yang terdorong oleh perkembangan industri pengolahan nikel di kawasan IMIP, sebagian di antaranya adalah penduduk baru dari luar Sulawesi Tengah. UMKM di Indonesia mendominasi pertumbuhan ekonomi, mampu menyerap tenaga kerja dan mendukung pertumbuhan PDRB, menjadi pilar ekonomi lokal dan andalan utama kehidupan sehari-hari masyarakat. Seorang pemilik restoran lokal telah menjalankan usahanya sejak 2018, awalnya pendapatan biasa-biasa saja, namun setelah pabrik di kawasan IMIP beroperasi pada Oktober 2024, jumlah pelanggan restoran bertambah, bisnis semakin berkembang pesat. Ia memperpanjang jam operasional restoran menjadi 24 jam, dan memperluas area makan, saat ini mempekerjakan setidaknya 18 orang, termasuk koki, pramusaji, dan kurir pengiriman.
Kawasan Industri Morowali (IMIP) mendorong perkembangan usaha kecil menengah (UKM) lokal. Dalam lima tahun terakhir, jumlah perusahaan di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah melonjak 62,7%, dan pada Maret 2025 jumlah perusahaan kembali meningkat menjadi 7.643 unit. Pertumbuhan signifikan terjadi pada tahun 2023, dengan 6.617 unit pada Februari dan meningkat menjadi 7.299 unit pada Agustus; pertumbuhan melambat pada tahun 2024, hanya naik tipis menjadi 7.318 unit. Keberadaan Kawasan Industri IMIP sangat mendorong perkembangan UMKM lokal, di mana UMKM setempat bermunculan seperti jamur, deretan kios, lapak, dan bangunan toko semi-permanen menjadi pemandangan yang ramai dalam kehidupan masyarakat. Aktivitas UMKM lokal menyerap hingga 16.705 tenaga kerja, terutama toko kelontong yang juga menjual bahan bakar (981 unit), lapak minuman (735 unit), dan lapak makanan semi-permanen (670 unit), serta kios (648 unit), restoran (591 unit), konter ponsel (274 unit) dan bengkel (274 unit), serta toko pakaian, sepatu, dan alat pelindung (263 unit) serta kios menengah (246 unit) dan lain-lain. Pada tahun 2024, jumlah UKM lokal tumbuh 14,9%, hal ini erat kaitannya dengan arus masuk penduduk yang terdorong oleh perkembangan industri pengolahan nikel di kawasan IMIP, sebagian di antaranya adalah penduduk baru dari luar Sulawesi Tengah. UMKM di Indonesia mendominasi pertumbuhan ekonomi, mampu menyerap tenaga kerja dan mendukung pertumbuhan PDRB, menjadi pilar ekonomi lokal dan andalan utama kehidupan sehari-hari masyarakat. Seorang pemilik restoran lokal telah menjalankan usahanya sejak 2018, awalnya pendapatan biasa-biasa saja, namun setelah pabrik di kawasan IMIP beroperasi pada Oktober 2024, jumlah pelanggan restoran bertambah, bisnis semakin berkembang pesat. Ia memperpanjang jam operasional restoran menjadi 24 jam, dan memperluas area makan, saat ini mempekerjakan setidaknya 18 orang, termasuk koki, pramusaji, dan kurir pengiriman.