Modal Tiongkok semakin cepat merambah rantai industri aluminium Indonesia, Kementerian ESDM mengonfirmasi Nanshan Aluminium masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang, Bintan (kapasitas produksi alumina 2 juta ton per tahun); Hongqiao Aluminium melalui PT WHW memperluas pabrik alumina di Kalimantan Barat (kapasitas berlipat ganda menjadi 4 juta ton); dan 3 perusahaan Tiongkok lainnya sedang dalam negosiasi proyek pabrik aluminium elektrolisis (rencana investasi US$1,2 miliar).
Cadangan bauksit Indonesia mencapai 7,4 miliar ton (peringkat ketiga global), dengan produksi tahun 2025 ditetapkan 14 juta ton (menyesuaikan kapasitas peleburan yang ada).
Larangan ekspor bauksit tahun 2023 mendorong pengolahan dalam negeri. Pemerintah mewajibkan proyek baru harus diperpanjang hingga produk akhir (misalnya pelat otomotif); namun hanya satu pabrik aluminium elektrolisis milik Inalum (kapasitas 500.000 ton per tahun), infrastruktur pelabuhan/listrik yang tertinggal menghambat progres proyek; Kementerian ESDM juga memperketat kepatuhan lingkungan (menutup 2 perusahaan tambang yang melanggar).
Tiongkok memanfaatkan Indonesia untuk menembus pembatasan impor bijih bauksit Australia (ketergantungan pada bauksit Australia turun menjadi 40% pada 2025), memenuhi kebutuhan aluminium untuk pabrik baterai Indonesia milik CATL/BYD. Saat ini sudah ada 4 pabrik alumina yang beroperasi (total kapasitas 4,3 juta ton), angka konversi aluminium elektrolisis baru mencapai 11,6%, dengan target pada 2029 kapasitas aluminium elektrolisis naik menjadi 2 juta ton.
Modal Tiongkok semakin cepat merambah rantai industri aluminium Indonesia, Kementerian ESDM mengonfirmasi Nanshan Aluminium masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang, Bintan (kapasitas produksi alumina 2 juta ton per tahun); Hongqiao Aluminium melalui PT WHW memperluas pabrik alumina di Kalimantan Barat (kapasitas berlipat ganda menjadi 4 juta ton); dan 3 perusahaan Tiongkok lainnya sedang dalam negosiasi proyek pabrik aluminium elektrolisis (rencana investasi US$1,2 miliar).
Cadangan bauksit Indonesia mencapai 7,4 miliar ton (peringkat ketiga global), dengan produksi tahun 2025 ditetapkan 14 juta ton (menyesuaikan kapasitas peleburan yang ada).
Larangan ekspor bauksit tahun 2023 mendorong pengolahan dalam negeri. Pemerintah mewajibkan proyek baru harus diperpanjang hingga produk akhir (misalnya pelat otomotif); namun hanya satu pabrik aluminium elektrolisis milik Inalum (kapasitas 500.000 ton per tahun), infrastruktur pelabuhan/listrik yang tertinggal menghambat progres proyek; Kementerian ESDM juga memperketat kepatuhan lingkungan (menutup 2 perusahaan tambang yang melanggar).
Tiongkok memanfaatkan Indonesia untuk menembus pembatasan impor bijih bauksit Australia (ketergantungan pada bauksit Australia turun menjadi 40% pada 2025), memenuhi kebutuhan aluminium untuk pabrik baterai Indonesia milik CATL/BYD. Saat ini sudah ada 4 pabrik alumina yang beroperasi (total kapasitas 4,3 juta ton), angka konversi aluminium elektrolisis baru mencapai 11,6%, dengan target pada 2029 kapasitas aluminium elektrolisis naik menjadi 2 juta ton.