Presiden Prabowo melakukan kunjungan singkat selama 8 jam ke China pada 3 September 2025, dengan agenda utama menghadiri parade peringatan 80 tahun kemenangan perang perlawanan China. Ia diundang untuk menyaksikan parade di Lapangan Tiananmen Beijing, bersama dengan pemimpin China, Putin, Kim Jong-un, dan pemimpin lainnya. Parade tersebut menampilkan 10.000 prajurit TNI, lebih dari 100 pesawat militer, serta ratusan peralatan darat.
Pertemuan bilateral dengan pemimpin China, kedua pihak dalam pembicaraan di Balai Agung Rakyat membahas permintaan maaf Indonesia atas ketidakhadiran dalam KTT SCO; kerja sama infrastruktur "Tanggul Raksasa" di Pantai Utara Jawa; serta pendalaman kemitraan strategis dalam rangka peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Ia juga mengadakan pertemuan terpisah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, fokus pada kerja sama perdagangan dan investasi, Putin dan Prabowo saling berpelukan sebagai tanda hormat. Sekretariat Kabinet Indonesia menyatakan bahwa kedua pihak mengonfirmasi akan memperkuat proyek kerja sama yang ada di bidang energi, infrastruktur, dan lainnya.
Kunjungan yang semula dijadwalkan 31 Agustus hingga 1 September sempat dibatalkan karena demonstrasi domestik di Indonesia. Setelah menilai situasi stabil pada 2 September, Prabowo berangkat malam itu dan tiba kembali di Jakarta pukul 20:45 keesokan harinya. Kunjungan ini merupakan kunjungan kerja pertama Prabowo ke China sejak menjabat, menonjolkan posisi strategis Indonesia dalam diplomasi keseimbangan antara kekuatan besar.
Presiden Prabowo melakukan kunjungan singkat selama 8 jam ke China pada 3 September 2025, dengan agenda utama menghadiri parade peringatan 80 tahun kemenangan perang perlawanan China. Ia diundang untuk menyaksikan parade di Lapangan Tiananmen Beijing, bersama dengan pemimpin China, Putin, Kim Jong-un, dan pemimpin lainnya. Parade tersebut menampilkan 10.000 prajurit TNI, lebih dari 100 pesawat militer, serta ratusan peralatan darat.
Pertemuan bilateral dengan pemimpin China, kedua pihak dalam pembicaraan di Balai Agung Rakyat membahas permintaan maaf Indonesia atas ketidakhadiran dalam KTT SCO; kerja sama infrastruktur "Tanggul Raksasa" di Pantai Utara Jawa; serta pendalaman kemitraan strategis dalam rangka peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Ia juga mengadakan pertemuan terpisah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, fokus pada kerja sama perdagangan dan investasi, Putin dan Prabowo saling berpelukan sebagai tanda hormat. Sekretariat Kabinet Indonesia menyatakan bahwa kedua pihak mengonfirmasi akan memperkuat proyek kerja sama yang ada di bidang energi, infrastruktur, dan lainnya.
Kunjungan yang semula dijadwalkan 31 Agustus hingga 1 September sempat dibatalkan karena demonstrasi domestik di Indonesia. Setelah menilai situasi stabil pada 2 September, Prabowo berangkat malam itu dan tiba kembali di Jakarta pukul 20:45 keesokan harinya. Kunjungan ini merupakan kunjungan kerja pertama Prabowo ke China sejak menjabat, menonjolkan posisi strategis Indonesia dalam diplomasi keseimbangan antara kekuatan besar.