Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari-Juli 2025 impor senjata Indonesia mencapai 65,04 juta dolar AS (sekitar 1,06 triliun rupiah), meningkat 43,9% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Kategori impor utama termasuk senjata militer (HS 93019000) senilai 46,83 juta dolar AS, terutama dari Uni Emirat Arab (25,84 juta dolar AS), Amerika Serikat (11,58 juta dolar AS), Italia (7,3 juta dolar AS).
Amunisi dan bahan peledak (HS 93069010) senilai 17,84 juta dolar AS, terutama dari Prancis (12,66 juta dolar AS), Ceko (2,52 juta dolar AS), Korea Selatan (1,67 juta dolar AS).Amunisi lainnya (HS 93069090) senilai 359.000 dolar AS, terutama dari Amerika Serikat (255.000 dolar AS), Korea Selatan (104.000 dolar AS).
Analisis menunjukkan bahwa Uni Emirat Arab untuk pertama kalinya menjadi pemasok senjata terbesar bagi Indonesia, menggantikan pemasok tradisional Amerika Serikat. Lonjakan impor ini terjadi bersamaan dengan kenaikan anggaran pertahanan Indonesia menjadi 136 triliun rupiah (2025), meningkat 12% dari tahun sebelumnya. Pakar menunjukkan bahwa kategori impor terutama senjata ringan dan amunisi, kemungkinan digunakan untuk kebutuhan kontra-terorisme dan keamanan perbatasan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari-Juli 2025 impor senjata Indonesia mencapai 65,04 juta dolar AS (sekitar 1,06 triliun rupiah), meningkat 43,9% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Kategori impor utama termasuk senjata militer (HS 93019000) senilai 46,83 juta dolar AS, terutama dari Uni Emirat Arab (25,84 juta dolar AS), Amerika Serikat (11,58 juta dolar AS), Italia (7,3 juta dolar AS).
Amunisi dan bahan peledak (HS 93069010) senilai 17,84 juta dolar AS, terutama dari Prancis (12,66 juta dolar AS), Ceko (2,52 juta dolar AS), Korea Selatan (1,67 juta dolar AS).Amunisi lainnya (HS 93069090) senilai 359.000 dolar AS, terutama dari Amerika Serikat (255.000 dolar AS), Korea Selatan (104.000 dolar AS).
Analisis menunjukkan bahwa Uni Emirat Arab untuk pertama kalinya menjadi pemasok senjata terbesar bagi Indonesia, menggantikan pemasok tradisional Amerika Serikat. Lonjakan impor ini terjadi bersamaan dengan kenaikan anggaran pertahanan Indonesia menjadi 136 triliun rupiah (2025), meningkat 12% dari tahun sebelumnya. Pakar menunjukkan bahwa kategori impor terutama senjata ringan dan amunisi, kemungkinan digunakan untuk kebutuhan kontra-terorisme dan keamanan perbatasan.