Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral baru-baru ini mengungkapkan bahwa hingga tahun 2040, 90% proyek hilirisasi di Indonesia akan terpusat di sektor mineral dan batu bara. Rencana ini didasarkan pada peta jalan Kementerian Investasi dan Hilirisasi yang bertujuan meningkatkan nilai tambah bahan baku. Nilai ekspor nikel meningkat dari 3,3 miliar dolar AS pada 2017-18 menjadi 34-40 miliar dolar AS pada 2025. Indonesia memiliki 42% cadangan nikel global (peringkat pertama dunia), timah (16,3%, peringkat kedua global), dan bauksit (4%, peringkat keenam global). Pemerintah akan terus melanjutkan kebijakan larangan ekspor bahan baku sambil membangun rantai industri yang lengkap (seperti ekosistem baterai kendaraan listrik) guna memperkuat kolaborasi antara Kementerian ESDM dan Kementerian Investasi. Menteri menyebutkan adanya hambatan dari dalam dan luar negeri, termasuk sejumlah negara yang tidak ingin melihat keberhasilan industrialisasi Indonesia, serta kelompok kepentingan domestik yang lebih menyukai model ekspor bahan baku. Pemerintah berencana melakukan transformasi ekonomi melalui hilirisasi 28 komoditas (termasuk minyak sawit, produk perikanan, dll.).