Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal baru-baru ini mengungkapkan di akun Instagram pribadinya bahwa ia telah menerima kunjungan perwakilan dari Tsingshan Group, perusahaan asal China. Ia menyatakan bahwa Indonesia dan Tsingshan telah menjalin kerja sama jangka panjang di bidang industri berbasis nikel dan hilirisasi mineral domestik. Pertemuan yang berlangsung pada awal Januari 2026 ini, ia bersama Ketua Urusan Luar Negeri Tsingshan Group dan Direktur Kawasan Industri Weda Bay Indonesia membahas berbagai topik, dengan fokus pada keberlanjutan investasi, pendalaman nilai tambah industri, serta arah pengembangan kawasan industri, agar proyek-proyek terkait lebih sesuai dengan visi pembangunan jangka panjang Indonesia.
Menurut data, Tsingshan Holding Group adalah perusahaan swasta China yang berfokus pada baja tahan karat dan industri nikel, didirikan pada 1988 di Wenzhou, dan resmi masuk ke industri nikel Indonesia pada 2009. Grup ini telah menempatkan sejumlah perusahaan inti di Indonesia: salah satunya adalah Weda Bay Nickel Company, perusahaan patungan antara Tsingshan Group (saham 51,3%), Eramet Group Prancis (saham 37,8%), dan PT Aneka Tambang Indonesia (saham 10%). Yang kedua adalah PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel yang berlokasi di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, bergerak di bidang pengolahan mineral logam dan produksi baja tahan karat. Pemegang sahamnya meliputi Tsingshan Holding, Qingdao Qingtuo Group dan perusahaan China lainnya, sementara PT Indonesia Morowali Industrial Park memegang 10% saham sebagai satu-satunya pemegang saham lokal Indonesia.
Selain itu, Tsingshan Group juga memiliki beberapa perusahaan afiliasi di kawasan Morowali, seperti PT Indonesia Guangqing Nickel & Stainless Steel, PT Sulawesi Mining Investment, dan lainnya di bidang yang sama.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal baru-baru ini mengungkapkan di akun Instagram pribadinya bahwa ia telah menerima kunjungan perwakilan dari Tsingshan Group, perusahaan asal China. Ia menyatakan bahwa Indonesia dan Tsingshan telah menjalin kerja sama jangka panjang di bidang industri berbasis nikel dan hilirisasi mineral domestik. Pertemuan yang berlangsung pada awal Januari 2026 ini, ia bersama Ketua Urusan Luar Negeri Tsingshan Group dan Direktur Kawasan Industri Weda Bay Indonesia membahas berbagai topik, dengan fokus pada keberlanjutan investasi, pendalaman nilai tambah industri, serta arah pengembangan kawasan industri, agar proyek-proyek terkait lebih sesuai dengan visi pembangunan jangka panjang Indonesia.
Menurut data, Tsingshan Holding Group adalah perusahaan swasta China yang berfokus pada baja tahan karat dan industri nikel, didirikan pada 1988 di Wenzhou, dan resmi masuk ke industri nikel Indonesia pada 2009. Grup ini telah menempatkan sejumlah perusahaan inti di Indonesia: salah satunya adalah Weda Bay Nickel Company, perusahaan patungan antara Tsingshan Group (saham 51,3%), Eramet Group Prancis (saham 37,8%), dan PT Aneka Tambang Indonesia (saham 10%). Yang kedua adalah PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel yang berlokasi di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, bergerak di bidang pengolahan mineral logam dan produksi baja tahan karat. Pemegang sahamnya meliputi Tsingshan Holding, Qingdao Qingtuo Group dan perusahaan China lainnya, sementara PT Indonesia Morowali Industrial Park memegang 10% saham sebagai satu-satunya pemegang saham lokal Indonesia.
Selain itu, Tsingshan Group juga memiliki beberapa perusahaan afiliasi di kawasan Morowali, seperti PT Indonesia Guangqing Nickel & Stainless Steel, PT Sulawesi Mining Investment, dan lainnya di bidang yang sama.