PT Garam, anak perusahaan ID Food, berencana membangun pabrik pengolahan air limbah di Kota Balikpapan untuk mengolah air limbah dari Rencana Induk Pengembangan Kilang Minyak (RDMP) Pertamina menjadi garam industri. Proyek ini bernilai investasi Rp7 triliun dan diperkirakan dimulai pada April 2026. Sekretaris Perusahaan PT Garam menyatakan bahwa air garam dari proses boiler Kilang Balikpapan Pertamina sebelumnya hanya dinetralkan dan dibuang ke laut, sementara pabrik tersebut mengambil air laut untuk memenuhi kebutuhan boiler. Karakteristik sumber daya ini memberikan potensi besar bagi proyek pengolahan air limbah menjadi garam. Saat ini PT Garam telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Pertamina, kedua pihak sedang melanjutkan studi kelayakan, dan rencana ini telah dilaporkan kepada lembaga pengelola investasi aset strategis Indonesia Danantara. Ketiga pihak berencana bekerja sama membentuk entitas baru untuk memajukan proyek. Danantara juga menargetkan proyek ini memasuki tahap konstruksi kedua pada April tahun ini, dan Pertamina menyambut baik peluang kerja sama bisnis baru ini. Pabrik pengolahan air limbah ini akan dilengkapi dengan teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR), mampu mengolah air limbah dengan kadar Baume minimal 4 derajat, dengan kapasitas produksi tahunan 1 juta ton garam industri, untuk memenuhi kebutuhan pasar industri Indonesia. Proyek ini merupakan salah satu dari tujuh proyek strategis pengolahan garam yang direncanakan PT Garam. Perusahaan telah mengalokasikan total investasi Rp10 triliun untuk semua proyek pengolahan dan pengembangan teknologi garam, dengan proyek Balikpapan sebagai investasi terbesar. Enam proyek lainnya meliputi: pembangunan fasilitas pengolahan garam berkapasitas 109.842 ton per tahun di Kota Bipolo, Nusa Tenggara Timur, seluas 300 hektar; pembangunan dua pabrik pengolahan garam teknologi MVR di Kota Gresik, masing-masing berkapasitas 100.000 ton dan 400.000 ton. Di Kota Sambung, produksi kalsium dan magnesium dari produk samping garam bittern, direncanakan bekerja sama dengan investor Swedia; pembangunan pabrik pengolahan garam berkapasitas 200.000 ton per tahun di Kota Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur; dan pembangunan pabrik garam berkapasitas 80.000-160.000 ton per tahun di Kota Sumenep bersama pengusaha Pulau Madura, dengan investasi Rp300 miliar.