Berdasarkan catatan Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Bali, pada periode 1 Januari hingga 9 Februari 2026, total ekspor manggis Bali ke China mencapai 79,5 ton dengan nilai sekitar Rp26 miliar. Jumlah ini meningkat drastis sekitar 700% dibandingkan ekspor bulan Desember 2025 yang sebesar 9,7 ton. Kepala balai menyatakan bahwa lonjakan ekspor terutama didorong oleh tingginya permintaan pasar China menjelang Imlek, di mana manggis sangat populer selama perayaan tersebut karena melambangkan keberuntungan, kemakmuran, dan kesehatan, serta warna dan rasanya cocok sebagai buah persembahan dan buah khas perayaan. Untuk memastikan kelancaran ekspor, pihak karantina melakukan pengawasan ketat guna memastikan manggis memenuhi persyaratan inspeksi China, termasuk bebas dari hama seperti kutu putih, lalat buah, kutu sisik, dan siput, sesuai dengan protokol ekspor yang telah ditandatangani kedua negara. Namun ia juga mencatat bahwa ekspor awal tahun 2026 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 365 ton, menunjukkan penurunan yang signifikan. Penyebab utamanya adalah perubahan musim dan cuaca ekstrem yang menyebabkan penurunan produksi manggis. Meskipun demikian, rebound ekspor jangka pendek yang tajam tetap menunjukkan permintaan kuat pasar China terhadap manggis Bali, dan menjadi penopang penting bagi petani serta ekspor produk pertanian lokal. Otoritas karantina menyatakan akan terus meningkatkan pengawasan dan layanan guna membantu buah-buahan unggulan Bali masuk ke pasar China secara stabil, sekaligus membantu petani menghadapi dampak iklim guna menstabilkan kapasitas produksi dan volume ekspor.