rnrnDuta Besar Tiongkok untuk Indonesia mengungkapkan kepada media di sela-sela Forum Media Think Tank China-Indonesia 2026 bahwa negosiasi utang terkait Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) berjalan sangat lancar, pihak Tiongkok terus menjalin komunikasi erat dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait di Indonesia, negosiasi secara keseluruhan berada di jalur yang tepat. Ketika ditanya tentang isi spesifik kesepakatan yang dicapai kedua belah pihak, Dubes mengatakan bahwa detail terkait belum dapat diungkapkan untuk saat ini, tetapi mengonfirmasi bahwa semua proses konsultasi berjalan dengan baik. Ia secara khusus menjelaskan sifat pendanaan: pihak Tiongkok tidak memberikan pinjaman langsung kepada pemerintah Indonesia, melainkan pemerintah Tiongkok menyediakan dana kepada China Development Bank (CDB), yang kemudian menyalurkan pinjaman untuk mendukung proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh), bukan merupakan utang luar negeri langsung antar pemerintah kedua negara.rnrnSejak tahun 2021, Presiden Direktur KCIC, perusahaan patungan Kereta Cepat Jakarta-Bandung, pernah menjelaskan kepada publik bahwa proyek ini menggunakan model pembiayaan business-to-business (B2B), di mana pinjaman CDB mencakup 75% dari total pembiayaan eksternal. Menteri Keuangan Indonesia sebelumnya mengonfirmasi kepada publik bahwa restrukturisasi utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung telah sepenuhnya selesai, dan hanya menunggu pengumuman resmi oleh pemerintah. Ia menolak mengungkapkan detail restrukturisasi lebih awal, termasuk masalah kepemilikan selanjutnya dari perusahaan patungan KCIC, dan mengatakan bahwa informasi terkait akan diumumkan secara serentak oleh menteri terkait, dan ia tidak berwenang untuk mengumumkannya lebih awal.rnrnMenteri Keuangan meninjau kembali bahwa pada tahap pembangunan proyek, terjadi masalah pembengkakan biaya yang serius, keterlambatan pengadaan lahan menjadi hambatan inti, dan pihak Tiongkok sebelumnya telah berulang kali menyampaikan keberatan mengenai hal ini.rnrnPada tahun-tahun awal, kemajuan proyek lambat, dalam dua tahun hanya 4 kilometer lahan yang berhasil dibebaskan, dan tanggapan dari berbagai pihak masih terdapat saling lempar tanggung jawab antara BUMN dan departemen pekerjaan umum. Setelah penanganan terkoordinasi oleh pihak Indonesia, situasi mulai sedikit membaik. Ia menekankan bahwa ke depannya, semua proyek infrastruktur besar, termasuk kereta cepat, akan diterapkan pengawasan ketat secara menyeluruh untuk memastikan proyek berjalan lancar. Saat ini, negosiasi dan proses restrukturisasi utang kedua belah pihak telah seluruhnya rampung, tinggal menunggu kedua negara memilih waktu yang tepat untuk mengumumkan secara resmi rencana lengkapnya. Masalah historis seperti keterlambatan pengadaan lahan dan pembengkakan biaya pada tahap konstruksi awal telah terselesaikan dengan baik melalui negosiasi ini.
Negosiasi Utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) China-Indonesia Berjalan Lancar
rnrnDuta Besar Tiongkok untuk Indonesia mengungkapkan kepada media di sela-sela Forum Media Think Tank China-Indonesia 2026 bahwa negosiasi utang terkait Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) berjalan sangat lancar. Pihak Tiongkok terus menjalin komunikasi erat dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait di Indonesia, dan negosiasi secara keseluruhan berada di jalur yang tepat. Ketika ditanya tentang isi spesifik kesepakatan yang dicapai kedua belah pihak, Dubes mengatakan bahwa detail terkait belum dapat diungkapkan untuk saat ini, tetapi mengonfirmasi bahwa semua proses konsultasi berjalan dengan baik. Ia secara khusus menjelaskan sifat pendanaan: Tiongkok tidak memberikan pinjaman langsung kepada pemerintah Indonesia, melainkan pemerintah Tiongkok menyediakan dana kepada Bank Pembangunan Nasional (China Development Bank), yang kemudian menyalurkan pinjaman untuk mendukung proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh), dan ini bukan
rnrnDuta Besar Tiongkok untuk Indonesia mengungkapkan kepada media di sela-sela Forum Media Think Tank China-Indonesia 2026 bahwa negosiasi utang terkait Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) berjalan sangat lancar, pihak Tiongkok terus menjalin komunikasi erat dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait di Indonesia, negosiasi secara keseluruhan berada di jalur yang tepat. Ketika ditanya tentang isi spesifik kesepakatan yang dicapai kedua belah pihak, Dubes mengatakan bahwa detail terkait belum dapat diungkapkan untuk saat ini, tetapi mengonfirmasi bahwa semua proses konsultasi berjalan dengan baik. Ia secara khusus menjelaskan sifat pendanaan: pihak Tiongkok tidak memberikan pinjaman langsung kepada pemerintah Indonesia, melainkan pemerintah Tiongkok menyediakan dana kepada China Development Bank (CDB), yang kemudian menyalurkan pinjaman untuk mendukung proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh), bukan merupakan utang luar negeri langsung antar pemerintah kedua negara.rnrnSejak tahun 2021, Presiden Direktur KCIC, perusahaan patungan Kereta Cepat Jakarta-Bandung, pernah menjelaskan kepada publik bahwa proyek ini menggunakan model pembiayaan business-to-business (B2B), di mana pinjaman CDB mencakup 75% dari total pembiayaan eksternal. Menteri Keuangan Indonesia sebelumnya mengonfirmasi kepada publik bahwa restrukturisasi utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung telah sepenuhnya selesai, dan hanya menunggu pengumuman resmi oleh pemerintah. Ia menolak mengungkapkan detail restrukturisasi lebih awal, termasuk masalah kepemilikan selanjutnya dari perusahaan patungan KCIC, dan mengatakan bahwa informasi terkait akan diumumkan secara serentak oleh menteri terkait, dan ia tidak berwenang untuk mengumumkannya lebih awal.rnrnMenteri Keuangan meninjau kembali bahwa pada tahap pembangunan proyek, terjadi masalah pembengkakan biaya yang serius, keterlambatan pengadaan lahan menjadi hambatan inti, dan pihak Tiongkok sebelumnya telah berulang kali menyampaikan keberatan mengenai hal ini.rnrnPada tahun-tahun awal, kemajuan proyek lambat, dalam dua tahun hanya 4 kilometer lahan yang berhasil dibebaskan, dan tanggapan dari berbagai pihak masih terdapat saling lempar tanggung jawab antara BUMN dan departemen pekerjaan umum. Setelah penanganan terkoordinasi oleh pihak Indonesia, situasi mulai sedikit membaik. Ia menekankan bahwa ke depannya, semua proyek infrastruktur besar, termasuk kereta cepat, akan diterapkan pengawasan ketat secara menyeluruh untuk memastikan proyek berjalan lancar. Saat ini, negosiasi dan proses restrukturisasi utang kedua belah pihak telah seluruhnya rampung, tinggal menunggu kedua negara memilih waktu yang tepat untuk mengumumkan secara resmi rencana lengkapnya. Masalah historis seperti keterlambatan pengadaan lahan dan pembengkakan biaya pada tahap konstruksi awal telah terselesaikan dengan baik melalui negosiasi ini.