Hingga Mei 2025, ekspor batu bara Indonesia ke China turun 15% year-on-year (yoy), dan ke India turun 7% yoy. Penyebab utama penurunan ini meliputi meningkatnya persaingan harga internasional, di mana produk batu bara dari Rusia, Mongolia, Australia, dan negara lain lebih kompetitif secara harga sehingga menekan pangsa pasar Indonesia. Selain itu, stok batu bara China yang tinggi—setelah Imlek, stok batu bara tidak turun seperti tahun-tahun sebelumnya—menyebabkan permintaan impor melemah dan ketergantungan pada batu bara Indonesia berkurang. Direktur Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan tidak perlu panik, dan menyarankan untuk beralih membuka pasar baru seperti ASEAN. Ia juga mempertanyakan masalah biaya transportasi batu bara Mongolia, karena kelemahan geografis dapat mengurangi daya saing harga. Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengonfirmasi penurunan ekspor, dan menekankan bahwa persaingan harga menjadi faktor utama.
Ekspor Batu Bara Indonesia ke China dan India Menurun
Hingga Mei 2025, ekspor batu bara Indonesia ke China turun 15% year-on-year (yoy), dan ke India turun 7% yoy. Penyebab utama penurunan ini meliputi meningkatnya persaingan harga internasional, di mana produk batu bara dari Rusia, Mongolia, Australia, dan negara lain lebih kompetitif secara harga sehingga menekan pangsa pasar Indonesia. Selain itu, stok batu bara China yang tinggi—setelah Imlek, stok batu bara tidak turun seperti tahun-tahun sebelumnya—menyebabkan permintaan impor melemah dan ketergantungan pada batu bara Indonesia berkurang. Direktur Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan tidak perlu panik, dan menyarankan untuk beralih membuka pasar baru seperti ASEAN. Ia juga mempertanyakan masalah biaya transportasi batu bara Mongolia, yang mungkin melemahkan daya saing harga karena kelemahan geografis.
Hingga Mei 2025, ekspor batu bara Indonesia ke China turun 15% year-on-year (yoy), dan ke India turun 7% yoy. Penyebab utama penurunan ini meliputi meningkatnya persaingan harga internasional, di mana produk batu bara dari Rusia, Mongolia, Australia, dan negara lain lebih kompetitif secara harga sehingga menekan pangsa pasar Indonesia. Selain itu, stok batu bara China yang tinggi—setelah Imlek, stok batu bara tidak turun seperti tahun-tahun sebelumnya—menyebabkan permintaan impor melemah dan ketergantungan pada batu bara Indonesia berkurang. Direktur Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan tidak perlu panik, dan menyarankan untuk beralih membuka pasar baru seperti ASEAN. Ia juga mempertanyakan masalah biaya transportasi batu bara Mongolia, karena kelemahan geografis dapat mengurangi daya saing harga. Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengonfirmasi penurunan ekspor, dan menekankan bahwa persaingan harga menjadi faktor utama.
Bacaan Terkait
Kabar Industri
Plastik Murah China Ancam Industri Petrokimia Indonesia, Asosiasi Desak Perlindungan
2026-09-03
Kabar Industri
Dua Kawasan Andalan Jawa Tengah Terus Meningkatkan Daya Tarik Investasi
2026-08-31
Warta Industri