Pada 30 Oktober, menurut media Indonesia, produsen bahan baku baterai asal China, Zhongwei New Material Co., Ltd., berencana membangun kawasan industri baterai senilai 10,5 miliar dolar AS di Indonesia. Margaretha, Direktur Zhongwei Indonesia, menyatakan bahwa kawasan industri ini dengan total investasi 10,5 miliar dolar AS akan dibagi menjadi tiga tahap, dan telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia akan memberikan insentif investasi termasuk lahan. Kawasan ini membutuhkan lahan seluas 3.000 hingga 5.000 hektar, dan lokasi proyek masih dalam pencarian. Kawasan yang direncanakan ini menyambut mitra rantai industri baterai untuk bergabung. Zhongwei Holdings didirikan pada September 2014, merupakan anak perusahaan dari Hunan Zhongwei Holding Group Co., Ltd., yang bergerak di bidang bisnis prekursor bahan katoda baterai lithium. Pada Desember 2020, perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Shenzhen. Berkat tren nikel tinggi dan pertumbuhan permintaan sel baterai terner yang stabil, pada semester pertama 2023 pangsa pasar prekursor terner Zhongwei mencapai 27%, dengan total pengiriman lebih dari 120.000 ton, dan sejak 2020 pengiriman tetap menjadi yang teratas di industri. Sejak tahun 2021, Zhongwei telah menginvestasikan Rp32,1 triliun di Indonesia, membangun pabrik peleburan nikel di Morowali, Morowali Utara, Weda Bay, dan Batulicin. Indonesia pada tahun 2020 mengumumkan larangan ekspor bijih nikel, dengan harapan memanfaatkan sumber daya nikel yang melimpah serta serangkaian kebijakan insentif investasi untuk menarik lebih banyak produsen kendaraan listrik dan baterai berinvestasi di Indonesia, membangun ekosistem baterai dan kendaraan listrik yang terintegrasi. Dalam 10 tahun terakhir, investasi puluhan perusahaan China yang dipimpin oleh Tsingshan Group di industri nikel Indonesia tidak hanya memberikan keuntungan besar bagi China dalam rantai pasok bahan baku stainless steel dan baterai baru, tetapi juga mendorong lompatan historis industri nikel Indonesia dari sekadar ekspor bijih mentah ke pengolahan hilir di dalam negeri. Indonesia memperoleh nilai tambah tambang yang besar. Dari 2012 hingga 2022, perusahaan China setidaknya telah menginvestasikan 14,2 miliar dolar AS untuk pembangunan industri nikel lokal, membangun rantai industri peleburan nikel Indonesia dari nol. Ekspor nikel Indonesia meningkat dari 3,3 miliar dolar AS pada tahun 2017 menjadi 33,8 miliar dolar AS pada tahun 2022. Pada 20 Oktober 2024, di bawah kepemimpinan Presiden Indonesia yang baru, Prabowo Subianto, Indonesia tetap akan melanjutkan kebijakan hilirisasi industri pertambangan. Peluang investasi di bidang pengolahan mineral mendalam di Indonesia sangat besar di masa depan.