Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat realisasi investasi semester I 2025 mencapai Rp942 triliun, naik 13,6% year-on-year, setara 49,5% dari target pemerintah tahun ini sebesar Rp1.905,9 triliun. Dari jumlah tersebut, investasi asing langsung menyumbang Rp432,6 triliun, investasi dalam negeri Rp510,3 triliun. Jepang pernah menjadi salah satu investor utama dan stabil Indonesia, namun investasinya terus menurun dalam enam tahun terakhir. Pada semester I 2019 sebesar US$2,4 miliar menempati peringkat kedua, semester I 2025 hanya US$1,6 miliar, menjadi yang terendah di antara lima investor asing terbesar. Investasi China meningkat signifikan, pada 2013 hanya US$297 juta, peringkat ke-12; naik ke peringkat ketiga pada 2017; semester I 2019 sebesar US$2,3 miliar, peringkat ketiga; semester I 2025 mencapai US$3,6 miliar. Malaysia mengalami pasang surut, semester I 2019 sebesar US$1 miliar peringkat kelima, semester I 2020 melonjak ke US$5,9 miliar naik ke peringkat ketiga, 2023-2024 tidak masuk lima besar, semester I 2025 kembali ke peringkat keempat dengan US$1,7 miliar, di atas Jepang, menunjukkan minat kuat terhadap pasar Indonesia. Data ini tidak termasuk masa pandemi COVID-19 2020-2022 karena aktivitas ekonomi yang lesu saat itu.
Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat realisasi investasi semester I 2025 mencapai Rp942 triliun, naik 13,6% year-on-year, setara 49,5% dari target pemerintah tahun ini sebesar Rp1.905,9 triliun. Dari jumlah tersebut, investasi asing langsung menyumbang Rp432,6 triliun, investasi dalam negeri Rp510,3 triliun. Jepang pernah menjadi salah satu investor utama dan stabil Indonesia, namun investasinya terus menurun dalam enam tahun terakhir. Pada semester I 2019 sebesar US$2,4 miliar menempati peringkat kedua, semester I 2025 hanya US$1,6 miliar, menjadi yang terendah di antara lima investor asing terbesar. Investasi China meningkat signifikan, pada 2013 hanya US$297 juta, peringkat ke-12; naik ke peringkat ketiga pada 2017; semester I 2019 sebesar US$2,3 miliar, peringkat ketiga; semester I 2025 mencapai US$3,6 miliar. Malaysia mengalami pasang surut, semester I 2019 sebesar US$1 miliar peringkat kelima, semester I 2020 melonjak ke US$5,9 miliar naik ke peringkat ketiga, 2023-2024 tidak masuk lima besar, semester I 2025 kembali ke peringkat keempat dengan US$1,7 miliar, di atas Jepang, menunjukkan minat kuat terhadap pasar Indonesia. Data ini tidak termasuk masa pandemi COVID-19 2020-2022 karena aktivitas ekonomi yang lesu saat itu.