Industri baja Indonesia tahun ini mengalami pertumbuhan signifikan, dengan peningkatan permintaan dari berbagai sektor, termasuk proyek pembangunan nasional dan kegiatan industri pendukung seperti nikel. Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa baja memiliki keterkaitan erat dengan industri lain, pemerintah tidak melarang impor bahan baku, tetapi memprioritaskan partisipasi industri lokal, untuk memastikan manfaat kegiatan ekonomi dinikmati di dalam negeri. Ia menekankan bahwa selama ada nilai tambah, akan diberikan porsi lebih besar, tetapi porsi yang lebih besar harus diberikan kepada industri lokal, guna mempertahankan kegiatan industri utama di dalam negeri. Tahun ini, industri logam dasar (termasuk baja) tumbuh 14,47% secara tahunan, tertinggi di antara subsektor industri, dan baja kembali menjadi pilar perekonomian nasional. Pertumbuhan ini didorong oleh keterkaitan rantai pasok antara baja dan industri lain seperti nikel, di mana aktivitas industri nikel yang aktif turut mendorong permintaan baja. Selain itu, lonjakan permintaan pasar juga menjadi faktor penting, proyek infrastruktur besar dan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) secara signifikan meningkatkan konsumsi baja. Pemerintah mengalokasikan Rp48,8 triliun untuk IKN, dengan target menjadi ibu kota politik pada tahun 2028, yang membutuhkan banyak baja. Ia berharap industri baja terus menjadi motor pertumbuhan ekonomi, memanfaatkan sinergi yang tinggi dengan industri lain, dan memperkuat posisi intinya dalam sistem industri.