Industri manufaktur Indonesia pada tahun 2025 mencatat pertumbuhan sebesar 5,15%, tingkat tertinggi sejak pandemi COVID-19, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11%. Sektor ini menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi tahun tersebut, dengan kontribusi terhadap PDB mencapai 1,07%, tertinggi dalam empat tahun terakhir. Pertumbuhan ini didukung terutama oleh proyek hilirisasi pemerintah, khususnya industri logam dasar yang tumbuh signifikan sebesar 15,71%, berkat kebijakan hilirisasi mineral seperti nikel. Sementara itu, sektor mesin dan peralatan tumbuh 13,98%, didorong oleh peningkatan impor mesin dan peralatan pada tahun 2025: impor peralatan elektrik (HS85) naik 17,22% menjadi USD 31,88 miliar; impor mesin dan peralatan mekanis (HS84) naik 7,75% menjadi USD 36,64 miliar. Namun di balik data yang gemilang, terdapat kekhawatiran struktural. Pakar ekonomi dari Celios mencatat bahwa sektor dengan pertumbuhan tinggi bukanlah industri padat karya, sementara sektor yang menyerap banyak tenaga kerja justru mengalami kontraksi: kayu dan produk kayu menyusut -3,29%, industri karet menyusut -4,07%, peralatan transportasi menyusut -2,64%. Hal ini menyebabkan daya serap tenaga kerja sektor manufaktur secara keseluruhan lemah, dengan kontribusi terbesar terhadap lapangan kerja justru berasal dari sektor makanan dan minuman. Selain itu, meskipun sektor hilir seperti logam dasar tumbuh kuat, sektor ini memiliki dampak lingkungan yang tinggi dan tidak berkelanjutan. Sebaliknya, industri makanan dan minuman tumbuh 6,39%, ditopang oleh produksi beras, minyak sawit, dan turunannya yang stabil serta permintaan domestik dan internasional, menjadi sektor yang stabil dan berkelanjutan dalam manufaktur. Badan Pusat Statistik menekankan bahwa manufaktur tetap menjadi pilar inti perekonomian nasional, namun ketimpangan struktural, rendahnya penyerapan tenaga kerja, dan tekanan lingkungan merupakan tantangan yang harus dihadapi dalam peningkatan industri ke depan.