Indonesia giat menjalin kerja sama dengan berbagai negara untuk mengembangkan industri rare earth (LTJ) dalam negeri, namun saat ini menghadapi kendala sulitnya mengimpor teknologi inti. Kepala Badan Industri Mineral (BIM) dalam sidang dengar pendapat dengan DPR menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pembahasan dengan perwakilan dari sejumlah negara mengenai kerja sama pemisahan dan pemurnian rare earth, tetapi sebagian besar negara yang menguasai teknologi kunci enggan mentransfer teknologi ke Indonesia, hanya bersedia membeli bahan baku rare earth Indonesia dan menolak membangun rantai pengolahan di dalam negeri. Ia menjelaskan bahwa teknologi untuk mengolah rare earth menjadi mineral unsur tunggal bernilai tambah tinggi sangat sulit, negara maju cenderung memonopoli teknologi dan mengimpor bijih mentah Indonesia untuk diolah di negara mereka guna memperoleh seluruh nilai tambah. Saat ini teknologi dalam negeri Indonesia hanya mampu melakukan pemisahan awal, menghasilkan campuran oksida rare earth, belum mampu memurnikan unsur rare earth murni yang bernilai tinggi. Untuk mengatasi hambatan ini, Indonesia menggandeng universitas dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat penelitian dan pengembangan mandiri, serta terus melakukan negosiasi eksternal dengan konsep "pasar untuk teknologi", menjanjikan perjanjian pembelian jangka panjang kepada mitra kerja sama guna menarik transfer teknologi. Hingga saat ini, Indonesia telah menjajaki kerja sama rare earth dengan perusahaan dari negara-negara berikut:• Australia: Iluka, Lynas (pembeli) • Jepang: Iwatani, JOGMEC (investasi dan pembelian) • Prancis: Carester (teknologi dan pembelian) • Finlandia: Metso (mitra teknologi) • Rusia: Rusal (teknologi dan pembelian) • China: Minmetals, Landmark Green Energy (investasi dan pembelian) • Uni Emirat Arab: New Energy Metal (investasi, pembelian dan pasokan) • Kanada: SRC (teknologi dan pembelian) Meskipun belum mencapai terobosan signifikan, Indonesia tetap berkomitmen pada kerja sama internasional dan penelitian mandiri secara paralel, dengan target membangun rantai industri rare earth dalam negeri yang lengkap dan bernilai tambah tinggi.