Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru-baru ini mengadakan pertemuan bilateral dengan Kementerian Baja Pemerintah India (Ministry of Steel, Government of India), yang berfokus pada peluang investasi dan kerja sama strategis kedua negara. Wakil Menteri Energi menyatakan bahwa kerja sama kedua pihak terutama berfokus pada pengembangan mineral kritis dan mendukung pembangunan fasilitas produksi baja di Indonesia, guna memperkuat ketahanan energi Indonesia dan mendorong investasi berkelanjutan. Ia berdiskusi secara mendalam dengan Sekretaris Kementerian Baja India mengenai kolaborasi strategis, dan berharap pertemuan ini menjadi langkah penting dalam memperdalam kerja sama Indonesia-India.
Perlu dicatat, India baru saja pada 21 Februari (Sabtu) menandatangani perjanjian kerja sama mineral kritis dengan Brasil, di mana kedua pihak akan bekerja sama erat di bidang pengolahan mineral untuk mengatasi fluktuasi rantai pasok global. Brasil memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar kedua di dunia, yang dapat menyediakan sumber pasokan alternatif bagi India, mengurangi ketergantungan pada Tiongkok, dan menjamin keamanan bahan baku untuk sektor-sektor penting seperti elektronik, energi bersih, dan pertahanan. Sebelum perjanjian ini tercapai, India juga telah bergabung dengan inisiatif "Pax Silica" yang dipimpin oleh Amerika Serikat, untuk bersama-sama membangun rantai pasok yang kokoh untuk semikonduktor, kecerdasan buatan, dan mineral kritis.
Di sisi lain, Indonesia dan Amerika Serikat juga telah menetapkan kerja sama dalam pengelolaan rantai penuh mineral kritis (termasuk Elemen Tanah Jarang/REE) dari hulu ke hilir. Kerja sama ini tertuang dalam ketentuan Perjanjian Tarif Timbal Balik yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump. Dokumen yang dirilis Gedung Putih pada 19 Februari waktu setempat secara jelas menyatakan bahwa Indonesia akan mencabut pembatasan ekspor barang-barang industri ke AS, termasuk mineral kritis. Kedua negara juga akan mempercepat kerja sama pengembangan, pengolahan, dan produksi hilir mineral kritis berdasarkan pertimbangan komersial.
Indonesia berkomitmen untuk bekerja sama secara efisien dengan perusahaan-perusahaan AS di bidang tanah jarang dan mineral kritis, memastikan rantai pasok yang aman dan beragam, sekaligus memberikan kepastian usaha yang lebih stabil bagi perusahaan yang terlibat dalam penambangan mineral kritis, guna meningkatkan kapasitas produksi dan pertumbuhan operasional. Menanggapi hal ini, Menteri Energi menegaskan bahwa meskipun Indonesia mengizinkan AS untuk memproses mineral di Indonesia, Indonesia tidak akan mengekspor mineral kritis mentah (termasuk tanah jarang) yang belum diolah, pihak AS harus membangun pabrik peleburan di dalam negeri untuk melakukan pemurnian sebelum mengekspor produk jadi, guna menghindari kesalahpahaman.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru-baru ini mengadakan pertemuan bilateral dengan Kementerian Baja Pemerintah India (Ministry of Steel, Government of India), yang berfokus pada peluang investasi dan kerja sama strategis kedua negara. Wakil Menteri Energi menyatakan bahwa kerja sama kedua pihak terutama berfokus pada pengembangan mineral kritis dan mendukung pembangunan fasilitas produksi baja di Indonesia, guna memperkuat ketahanan energi Indonesia dan mendorong investasi berkelanjutan. Ia berdiskusi secara mendalam dengan Sekretaris Kementerian Baja India mengenai kolaborasi strategis, dan berharap pertemuan ini menjadi langkah penting dalam memperdalam kerja sama Indonesia-India.
Perlu dicatat, India baru saja pada 21 Februari (Sabtu) menandatangani perjanjian kerja sama mineral kritis dengan Brasil, di mana kedua pihak akan bekerja sama erat di bidang pengolahan mineral untuk mengatasi fluktuasi rantai pasok global. Brasil memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar kedua di dunia, yang dapat menyediakan sumber pasokan alternatif bagi India, mengurangi ketergantungan pada Tiongkok, dan menjamin keamanan bahan baku untuk sektor-sektor penting seperti elektronik, energi bersih, dan pertahanan. Sebelum perjanjian ini tercapai, India juga telah bergabung dengan inisiatif "Pax Silica" yang dipimpin oleh Amerika Serikat, untuk bersama-sama membangun rantai pasok yang kokoh untuk semikonduktor, kecerdasan buatan, dan mineral kritis.
Di sisi lain, Indonesia dan Amerika Serikat juga telah menetapkan kerja sama dalam pengelolaan rantai penuh mineral kritis (termasuk Elemen Tanah Jarang/REE) dari hulu ke hilir. Kerja sama ini tertuang dalam ketentuan Perjanjian Tarif Timbal Balik yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump. Dokumen yang dirilis Gedung Putih pada 19 Februari waktu setempat secara jelas menyatakan bahwa Indonesia akan mencabut pembatasan ekspor barang-barang industri ke AS, termasuk mineral kritis. Kedua negara juga akan mempercepat kerja sama pengembangan, pengolahan, dan produksi hilir mineral kritis berdasarkan pertimbangan komersial.
Indonesia berkomitmen untuk bekerja sama secara efisien dengan perusahaan-perusahaan AS di bidang tanah jarang dan mineral kritis, memastikan rantai pasok yang aman dan beragam, sekaligus memberikan kepastian usaha yang lebih stabil bagi perusahaan yang terlibat dalam penambangan mineral kritis, guna meningkatkan kapasitas produksi dan pertumbuhan operasional. Menanggapi hal ini, Menteri Energi menegaskan bahwa meskipun Indonesia mengizinkan AS untuk memproses mineral di Indonesia, Indonesia tidak akan mengekspor mineral kritis mentah (termasuk tanah jarang) yang belum diolah, pihak AS harus membangun pabrik peleburan di dalam negeri untuk melakukan pemurnian sebelum mengekspor produk jadi, guna menghindari kesalahpahaman.