Perkembangan Industri Jambu Biji di Indonesia
Indonesia adalah negara penghasil jambu biji terbesar di dunia, dengan produksi tahunan sekitar 26,3 juta ton, jauh melampaui India, Iran, dan negara lainnya. Hal ini berkat iklim tropis yang stabil, tanah vulkanik yang subur, serta penanaman yang luas dan merata dari Aceh hingga Maluku, menjadikan jambu biji hampir ada di mana-mana mulai dari kebun komersial hingga pekarangan rumah. Jambu biji Indonesia kaya akan vitamin C, antioksidan, dan serat, dianggap sebagai "penjaga kekebalan" alami, serta mudah beradaptasi sehingga petani dapat menanam sepanjang tahun. Namun, sebagian besar jambu biji Indonesia dikonsumsi dalam bentuk segar atau dijual di pasar tradisional, dengan sedikit pengolahan lanjutan. Meskipun bukan negara produsen terbesar, India
Perkembangan Industri Gula Kelapa di Indonesia
Investasi Industri Hilir Indonesia Capai Lebih dari 280 Triliun pada Semester I
Indonesia dan AS Investasi US$8 Miliar Bangun 17 Kilang Minyak
Indonesia Berencana Membangun 18 Kilang Minyak dengan Total Kapasitas 1 Juta Barel
Indonesia Berencana Investasi Lebih dari Enam Ratus Triliun untuk Mengembangkan 18 Proyek Hilirisasi
Indonesia berencana membangun proyek hilirisasi batubara di 6 lokasi untuk mengubah batubara menjadi dimetil eter. Proyek ini merupakan bagian dari 18 proyek hilirisasi nasional dan ketahanan energi, dan studi kelayakan awalnya telah selesai. Lokasi proyek berada di Bulungan, Kutai Timur, Kota Baru, Muara Enim, Pali, dan Banyuasin. Diperkirakan investasi sebesar Rp164 triliun akan menciptakan 34.800 lapangan kerja. Studi kelayakan awal diselesaikan oleh Satuan Tugas Khusus Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, dan dokumen telah diserahkan kepada
Investasi Manufaktur Indonesia Melonjak, Prospek Pekerjaan Lebih dari 3 Juta Orang Membaik
Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional semester pertama tahun 2025, terdapat 1.641 perusahaan yang sedang membangun fasilitas produksi baru dengan nilai investasi mencapai Rp803,2 triliun, diperkirakan akan menyerap 3,05 juta tenaga kerja. Pada Juni 2025, produksi manufaktur menunjukkan ekspansi, Indeks Keyakinan Industri (IKI) berada di angka 52,50, menunjukkan lebih dari 50% perusahaan industri mengalami peningkatan kinerja dibandingkan bulan sebelumnya, dan permintaan tenaga kerja meningkat. Indeks Keyakinan Industri untuk industri berorientasi ekspor dan industri berorientasi pasar domestik masing-masing sebesar 52,19 dan 51,32, keduanya menunjukkan ekspansi, yang berarti permintaan, produksi, dan ketenagakerjaan di sektor manufaktur lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.
Djarum Terus Menambah Kepemilikan Saham SSIA Lebih dari 400 Juta Lembar dalam Tiga Pekan
PT Dwimuria Investama Andalan, bagian dari Grup Djarum, terus menambah kepemilikan saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (kode saham SSIA). Dalam tiga pekan terakhir, total pembelian mencapai 426.482.600 lembar saham SSIA, sehingga kepemilikan naik menjadi 9,06%. Pada 4 Juli, pertama kali membeli 247.992.700 lembar; pada 15 Juli membeli 2.104.600 lembar, kepemilikan naik menjadi 5,89%; pada 21 Juli membeli 4.065.900 lembar; pada 22 Juli membeli 29.141.300 lembar; pada 23 Juli membeli 12.607.800 lembar; dan yang terbaru 4.500.000 lembar. Sejak awal pembelian pada 4 Juli hingga 25 Juli, harga saham SSIA naik 51,91% menjadi 2.590 poin. Pada 28 Juli pukul 15:01 WIB, harga saham naik 2,7% lagi menjadi 2.660 poin. Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik Prajogo Pangestu memiliki 284.846.365 lembar saham SSIA (6,05%) dan menjadi pemegang saham utama di atas 5% pada 15 Juli. Pada kuartal I 2025, SSIA mencatat rugi bersih Rp21,7 miliar (dibandingkan rugi Rp14,9 miliar tahun lalu, kerugian membesar); pendapatan Rp1,06 triliun (tahun lalu Rp1,09 triliun, menurun); beban operasional Rp86,87 miliar (tahun lalu Rp78,46 miliar, meningkat); laba kotor Rp19,94 miliar (tahun lalu Rp30,69 miliar, turun 35%)
Singapura Terus Perluas Investasi di Industri Energi Hijau Indonesia
Temasek Holdings dari Singapura terus memperluas peta investasinya di Indonesia, mencakup sektor energi hijau, kesehatan, telekomunikasi, ritel, dan lainnya, serta mendapat dukungan penuh dari pemerintah Indonesia. Pada 18 Juli 2025, Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia bertemu dengan Ketua Dewan Komisaris Singtel (Singapura) yang juga anggota Dewan Direksi Temasek di Jakarta. Kedua pihak membahas potensi kerja sama antara Temasek dan Badan Pengelola Investasi Danantara (BPI Danantara) Indonesia, dukungan terhadap transisi energi dan pengembangan kawasan industri hijau di Indonesia. Investasi Temasek di Indonesia telah berlangsung lama, melalui
Raksasa Bisnis Indonesia Masuki Sektor Properti Industri dan Kesehatan
CEO Grup Djarum Indonesia menjelaskan alasan grup melalui divisi investasi Dwimuria Investama Andalan memasuki bidang properti industri dan kesehatan. Grup menilai sektor properti industri dan kesehatan memiliki prospek cerah dan mampu mempertahankan kelangsungan bisnis di tengah ketidakpastian global. Ada juga "rasa tidak aman keluarga", khawatir bisnis inti yang ada (tembakau) mungkin hilang, merujuk pada contoh hilangnya industri lain (seperti minyak sawit, industri terkait Jepang). Ia menekankan grup dan tim memiliki kemampuan untuk menjalankan bisnis di bidang baru yang tidak terkait dengan bisnis inti.
Konglomerasi Besar Tingkatkan Investasi Strategis Jangka Panjang di Kawasan Industri, Dorong Revaluasi Valuasi
Seorang profesor keuangan dan pasar modal menyatakan bahwa langkah konglomerasi besar Indonesia memasuki sektor kawasan industri adalah strategi jangka panjang yang dapat menjadi katalis positif, bukan proyek spekulatif. Langkah ini didorong oleh prospek baik kawasan industri, seperti potensi menjadi hub pelabuhan besar di masa depan (misalnya area yang dikelola PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA)). Fenomena ini dapat memberikan dampak positif pada harga saham kawasan industri lainnya dan juga saham properti lainnya. Kehadiran perusahaan besar memvalidasi daya tarik sektor kawasan industri yang didorong oleh pembangunan infrastruktur, pertumbuhan manufaktur, pengembangan industri hilir, masuknya investasi asing, dan kebijakan dukungan pemerintah (seperti kawasan ekonomi khusus). Perusahaan-perusahaan ini memiliki rekam jejak yang baik dan bukan investor spekulatif, sehingga proyek kawasan industri bukanlah proyek jangka pendek dan memiliki integrasi yang kuat dengan bisnis inti. Beberapa kelompok usaha Indonesia baru-baru ini melakukan banyak aksi korporasi di sektor kawasan industri, termasuk pembelian tanah, proyek, dan masuk melalui saham perusahaan kawasan industri, yang memicu spekulasi tentang prospek valuasi jangka menengah dan panjang.
Raksasa Kemasan Malaysia Investasi 7 Juta Dolar AS Bangun Pabrik di Batang
Raksasa kemasan plastik Malaysia, Thong Guan Industries Berhad, berinvestasi membangun pabrik di Kawasan Ekonomi Khusus Batang dengan nilai investasi 7 juta dolar AS (sekitar 114 miliar rupiah), di atas lahan seluas 5,04 hektar, diperkirakan akan menciptakan 500 lapangan kerja. Perusahaan ini memiliki sejarah lebih dari 50 tahun, merupakan eksportir stretch film terkemuka global dan penguasa pasar kantong plastik di Jepang. 85% produknya diekspor ke Korea Selatan, Meksiko, Chili, Vietnam, dan berbagai negara lainnya, dengan total pendapatan tahunan mencapai 4,2 triliun rupiah. Proyek ini mengedepankan keberlanjutan, pabrik akan menggunakan