Di tengah perkembangan pesat industri kendaraan listrik global dan meningkatnya ketidakpastian perdagangan geopolitis, kolaborasi lintas negara telah menjadi kunci utama pengembangan rantai industri baterai. Proyek Peleburan Nikel Bahopai (BNSI) Indonesia yang dibangun bersama oleh PT. Vione Indonesia, GEM China, dan EcoPro Korea Selatan, menciptakan model kerjasama internasional baru yang saling melengkapi dalam hal sumber daya, teknologi, dan pasar. Baru-baru ini, proyek tersebut berhasil menyelesaikan pemasangan peralatan High-Pressure Acid Leach (HPAL) autoklaf berkapasitas super besar dengan volume 1.268 meter kubik, menandai proyek memasuki tahap kritis dan akan memperkuat posisi inti Indonesia dalam rantai pasokan mineral energi baru global. Kerjasama ini menggabungkan keunggulan industri inti dari Indonesia, Cina, dan Korea Selatan, membentuk rantai industri tertutup yang lengkap.

Indonesia mengandalkan keunggulan lokalnya, memiliki sumber daya nikel kelas dunia di area konsesi seluas 118.000 hektar, ditambah dengan kebijakan dukungan hilirisasi mineral yang lengkap, memberikan jaminan bahan baku yang stabil bagi proyek. GEM China menyediakan teknologi inti HPAL generasi baru yang mampu mengolah bijih nikel laterit secara efisien, menghasilkan campuran nikel hidroksida, nikel sulfat, dan material prekursor baterai, dengan keunggulan efisiensi tinggi, hemat energi, rendah karbon, dan ramah lingkungan, membantu proyek membangun taman industri hijau ekonomi sirkular. EcoPro Korea Selatan mengekspor teknologi penelitian dan pengembangan material katoda canggih, sekaligus membuka jaringan penjualan industri baterai global. Proyek ini merupakan proyek strategis nasional Indonesia dengan total investasi sebesar 1,845 miliar dolar AS (setara 29 triliun rupiah), dengan rencana produksi tahunan produk MHP setara 90.000 ton nikel logam.

Proyek diperkirakan selesai pada akhir tahun 2026 dan mulai beroperasi secara resmi pada kuartal pertama tahun 2027. Setelah beroperasi, proyek ini akan menghasilkan nilai ekspor sebesar 1,5 miliar dolar AS per tahun, menyediakan lebih dari 5.000 lapangan kerja lokal, dan bahan baku tahunan dapat memenuhi kebutuhan produksi 3 juta unit kendaraan energi baru. Produk utama akan dipasok ke pasar utama seperti Korea Selatan, Eropa, dan Amerika Serikat. Selain itu, proyek dibangun sesuai standar taman rendah karbon, sejalan dengan target emisi nol bersih Indonesia tahun 2060, dan mengandalkan model ekonomi sirkular untuk membangun taman industri hijau kelas dunia. Duta Besar Korea Selatan menyatakan bahwa di tengah meningkatnya konflik geopolitik dan proteksionisme perdagangan, kolaborasi lintas tiga negara ini telah membangun rantai pasokan hijau yang stabil, melampaui keterbatasan persaingan sumber daya atau teknologi tunggal, memberikan model baru bagi kerjasama industri energi baru global, serta mendorong hilirisasi industri nikel Indonesia dan membantunya terintegrasi secara mendalam ke dalam rantai industri inti energi baru global.