PT AM/NS Indonesia baru-baru ini mengadakan acara di Pelabuhan Tanjung Priok untuk mengekspor 10.000 ton baja galvanis ke AS, volume ekspor tertinggi dalam hampir 20 tahun, senilai USD 10 juta. Pejabat Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa pertumbuhan industri baja menunjukkan tren positif dengan peningkatan ekspor, terutama menembus pasar kompetitif seperti AS, membuktikan kualitas baja Indonesia diakui secara internasional dan berdaya saing global. Industri baja Indonesia menghadapi persaingan global, terutama dari negara-negara seperti China, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan. Sementara itu, pengawasan impor baja non-standar yang kurang memadai mempengaruhi perkembangan industri. Untuk meningkatkan daya saing industri baja, pemerintah telah menyusun berbagai kebijakan strategis, termasuk penerapan langkah-langkah pelacakan utama, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk menjamin kualitas produk baja dalam negeri, serta penyediaan fasilitas fiskal seperti keringanan pajak, masa bebas pajak, dan penyederhanaan proses impor bahan baku melalui daftar induk, serta akan terus mengevaluasi kebijakan ini untuk meningkatkan efektivitasnya. Saat ini pasar utama perusahaan ini adalah AS dan Kanada, dengan target ekspor 5.000-6.000 ton per bulan ke AS dan 3.000-4.000 ton per kuartal ke Kanada. Selain itu, perusahaan juga berencana untuk membuka pasar baru seperti Eropa, Malaysia, dan Australia.