Proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi Lumut Balai Tahap II resmi beroperasi setelah berhasil melewati uji keandalan berkelanjutan selama 72 jam dan mendapatkan persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Perusahaan Listrik Negara (PLN). Proyek ini berlokasi di Kabupaten Muara Enim, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Dibangun satu unit turbin uap kondensasi berkapasitas 55 MW (output bersih), dilengkapi dengan sistem pengumpulan uap, sistem perpipaan pengembalian air asin jarak jauh, saluran transmisi dan gardu induk, serta fasilitas lainnya. Dirancang oleh Southwest Institute of China Energy Engineering and Power Engineering. Proyek ini merupakan proyek pembangkit listrik panas bumi "flash tunggal" yang sepenuhnya dilaksanakan oleh perusahaan Tiongkok dan berhasil dioperasikan, dan juga merupakan proyek pembangkit listrik panas bumi dengan kapasitas terbesar per unit yang dirancang oleh perusahaan Tiongkok di Indonesia, menandai terobosan penting dalam penerapan teknologi panas bumi oleh Tiongkok. Sebagai proyek pembangkit listrik panas bumi luar negeri pertama dari Southwest Institute, proyek ini memberikan dorongan kuat bagi kerja sama hijau antara Tiongkok dan Indonesia, serta meningkatkan pengaruh internasional Southwest Institute di bidang pembangkit listrik panas bumi. Proyek ini berhasil menerapkan teknologi pembangkit listrik panas bumi "flash tunggal" secara rekayasa penuh, memberikan contoh bagi teknologi panas bumi Tiongkok untuk mendunia; mengoptimalkan desain sistem pengumpulan dan transportasi uap jarak jauh serta sistem pengembalian air asin, memaksimalkan pemanfaatan sumber daya panas bumi suhu menengah, meningkatkan efisiensi pembangkitan, dan menjaga keseimbangan ekologi; mengoptimalkan desain seismik dan kesesuaian geologi dari pembangkit listrik dan sistem perpipaan sesuai dengan kondisi medan vulkanik dan geologi di area proyek, memastikan operasi yang aman dan andal dalam jangka panjang. Proyek ini juga merupakan proyek penting bagi Indonesia untuk mencapai target "penambahan kapasitas terpasang panas bumi sebesar 5,2 GW pada tahun 2034, dengan pangsa energi terbarukan mencapai 76% dari penambahan kapasitas listrik baru". Proyek ini dapat mengurangi masalah pasokan listrik di daerah setempat dan mendorong pembangunan ekonomi dan sosial daerah.