Wakil Menteri Perindustrian baru-baru ini menyatakan bahwa setelah Presiden AS mengumumkan pengenaan tarif impor baru terhadap sejumlah negara yang memicu perang dagang, Tiongkok kehilangan pasar utamanya di AS, dan sejumlah besar produk dialihkan ke negara lain, di mana Indonesia menjadi tujuan penting. Hal ini menyebabkan produk impor Tiongkok membanjiri pasar Indonesia dan berdampak pada industri dalam negeri. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Indonesia pada Juni 2025 tercatat 46,9, berada dalam fase kontraksi, terutama disebabkan oleh melemahnya permintaan baru di pasar ekspor, sentimen pasar global, dan ketidakpastian kebijakan perdagangan; industri padat karya seperti tekstil, suku cadang otomotif, serta industri elektronik dan peralatan rumah tangga menghadapi tekanan penurunan permintaan ekspor; konflik antara Iran dan Israel dapat mengganggu pasokan energi, yang selanjutnya mempengaruhi rantai pasokan global. Tujuh jenis komoditas yang ekspor Tiongkok ke Indonesia melonjak meliputi: HS 23 (Limbah industri makanan dan pakan olahan) naik 11,17%, HS 03 (Ikan dan krustasea) naik lebih dari 100%, HS 18 (Produk kakao dan olahannya) naik lebih dari 100%, HS 09 (Kopi, teh, mate, dan rempah-rempah) naik 53,42%, HS 48 (Kertas dan karton) naik 28,52%, HS 19 (Sereal, tepung, pati, susu, dan kue kering) naik 24,91%, HS 44 (Produk kayu dan arang) naik 22,46%. Ekspor produk pertanian Tiongkok ke Indonesia melonjak hingga 47,7 juta dolar AS (sekitar 77,2 miliar rupiah), naik 30%; sedangkan pada periode yang sama, ekspor produk pertanian Tiongkok ke AS menurun 1,17 miliar dolar AS (sekitar 18,95 triliun rupiah). Ketergantungan Indonesia yang tinggi pada impor baja dan aluminium dari Tiongkok dianggap dapat menjadi masalah struktural. Ia menekankan bahwa pemerintah perlu memperhatikan dampak pengalihan perdagangan terhadap struktur impor dalam negeri, merumuskan kebijakan protektif, memperkuat industri dalam negeri, menghindari ketergantungan jangka panjang pada impor, serta menggali potensi industri pertanian dalam negeri dan menghadapi tantangan.
Wakil Menteri Perindustrian baru-baru ini menyatakan bahwa setelah Presiden AS mengumumkan pengenaan tarif impor baru terhadap sejumlah negara yang memicu perang dagang, Tiongkok kehilangan pasar utamanya di AS, dan sejumlah besar produk dialihkan ke negara lain, di mana Indonesia menjadi tujuan penting. Hal ini menyebabkan produk impor Tiongkok membanjiri pasar Indonesia dan berdampak pada industri dalam negeri. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Indonesia pada Juni 2025 tercatat 46,9, berada dalam fase kontraksi, terutama disebabkan oleh melemahnya permintaan baru di pasar ekspor, sentimen pasar global, dan ketidakpastian kebijakan perdagangan; industri padat karya seperti tekstil, suku cadang otomotif, serta industri elektronik dan peralatan rumah tangga menghadapi tekanan penurunan permintaan ekspor; konflik antara Iran dan Israel dapat mengganggu pasokan energi, yang selanjutnya mempengaruhi rantai pasokan global. Tujuh jenis komoditas yang ekspor Tiongkok ke Indonesia melonjak meliputi: HS 23 (Limbah industri makanan dan pakan olahan) naik 11,17%, HS 03 (Ikan dan krustasea) naik lebih dari 100%, HS 18 (Produk kakao dan olahannya) naik lebih dari 100%, HS 09 (Kopi, teh, mate, dan rempah-rempah) naik 53,42%, HS 48 (Kertas dan karton) naik 28,52%, HS 19 (Sereal, tepung, pati, susu, dan kue kering) naik 24,91%, HS 44 (Produk kayu dan arang) naik 22,46%. Ekspor produk pertanian Tiongkok ke Indonesia melonjak hingga 47,7 juta dolar AS (sekitar 77,2 miliar rupiah), naik 30%; sedangkan pada periode yang sama, ekspor produk pertanian Tiongkok ke AS menurun 1,17 miliar dolar AS (sekitar 18,95 triliun rupiah). Ketergantungan Indonesia yang tinggi pada impor baja dan aluminium dari Tiongkok dianggap dapat menjadi masalah struktural. Ia menekankan bahwa pemerintah perlu memperhatikan dampak pengalihan perdagangan terhadap struktur impor dalam negeri, merumuskan kebijakan protektif, memperkuat industri dalam negeri, menghindari ketergantungan jangka panjang pada impor, serta menggali potensi industri pertanian dalam negeri dan menghadapi tantangan.