Menteri Energi dan Pertambangan baru-baru ini mengumumkan bahwa studi kelayakan (FS) untuk 18 proyek hilirisasi energi dan sumber daya serta ketahanan energi yang ditangani oleh BPI Danantara akan selesai pada Desember 2025. Total investasi proyek-proyek ini sekitar 300 triliun rupiah, mencakup sektor-sektor kunci seperti ekosistem baterai kendaraan listrik. Dalam sambutannya pada acara peresmian pabrik petrokimia Lotte Chemical Indonesia, ia menyatakan bahwa laporan terkait telah diserahkan kepada Presiden Prabowo. Proyek baterai kendaraan listrik sebelumnya tidak termasuk dalam proposal yang diserahkan oleh Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional kepada Danantara pada akhir Juli, namun kini telah dimasukkan dalam lingkup studi. Ia menekankan bahwa jika studi berjalan lancar, Indonesia akan membangun rantai industri kendaraan listrik dan baterai dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan bahan baku. Direktur Utama Danantara mengungkapkan bahwa tim sedang berkoordinasi dengan Kementerian Energi untuk menyesuaikan parameter asumsi proyek, dan beberapa detail masih perlu dioptimalkan lebih lanjut. Proposal awal mencakup 18 proyek dengan total investasi sebesar 38,63 miliar dolar AS. Proyek-proyek tersebut meliputi bidang mineral (seperti peleburan aluminium, pembuatan DME dari batu bara), pertanian, perikanan, transisi energi (seperti modul surya, bahan bakar bioavtur), dan ketahanan energi (seperti kilang minyak, tangki penyimpanan minyak) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Rencana ini bertujuan untuk mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor, sekaligus membangun industri energi baru.