Bandara Kawasan Industri Morowali (IMIP) menjadi perbincangan setelah Menteri Pertahanan menyebut "tanpa kehadiran institusi negara". Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut baru-baru ini mengungkapkan awal mula pembangunan bandara tersebut. Luhut mengakui bahwa Bandara IMIP dibangun pada masa dirinya menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (era Presiden Joko Widodo) melalui keputusan rapat yang dipimpinnya bersama instansi terkait, sebagai fasilitas untuk menarik investor, serupa dengan praktik di Vietnam dan Thailand. Bandara ini dibangun secara terintegrasi dengan Kawasan Industri IMIP (yang berisi proyek investasi China), awalnya sebagai fasilitas pendukung untuk mengamankan investasi China yang mampu melakukan hilirisasi nikel. Luhut telah melobi pejabat tinggi bahkan pemimpin negara China, dan akhirnya mendorong investasi China di Morowali sebesar US$20 miliar. Menurutnya, dalam kondisi tersebut, permintaan investor akan fasilitas khusus bukanlah hal yang melanggar aturan. Ia menegaskan bahwa bandara khusus di dalam kawasan industri ini hanya melayani penerbangan domestik, sesuai hukum tidak memerlukan bea cukai atau imigrasi, dan tidak pernah diizinkan menjadi bandara internasional. Sebelumnya, Menteri Pertahanan setelah meninjau latihan pertahanan terpadu menyebut bahwa sebuah bandara di Indonesia sama sekali tidak memiliki konfigurasi institusi negara, yang memicu spekulasi di media sosial mengarah pada Bandara IMIP. Manajer Komunikasi IMIP menanggapi bahwa bandara tersebut adalah bandara spesifikasi khusus, telah terdaftar di Kementerian Perhubungan, dan dikelola berdasarkan Undang-Undang Penerbangan 2009.