Direktur Hubungan Eksternal CNGR Indonesia menekankan pentingnya transformasi regulasi dan penguatan pengolahan hilir bijih nikel untuk menjaga keberlanjutan industri nikel Indonesia di pasar global dalam acara Buka Puasa Bersama Pemangku Kepentingan "Indonesia Mining Outlook 2026" yang diadakan di Jakarta. Ia menyebutkan bahwa produk nikel yang diproduksi CNGR tidak hanya ditujukan untuk industri kendaraan listrik (EV), tetapi memiliki aplikasi yang lebih luas, dan telah lama menjadi sumber daya penting bagi peradaban manusia. Orang sering mengira nikel hanya terkait dengan EV, padahal pasokan nikel Indonesia melayani kebutuhan global yang lebih luas, termasuk baja tahan karat dan berbagai teknologi lainnya. Ia mengulas evolusi teknologi manusia: dari kayu, besi, hingga baja tahan karat, dan kini nikel dalam pengembangan kendaraan listrik dan energi hijau.
Ke depan tidak hanya EV, tetapi juga pengembangan teknologi energi hijau untuk menciptakan bumi yang lebih bersih bagi generasi mendatang. Sejak 2021, CNGR telah mengoperasikan teknologi OESBF di Morowali, mengolah bijih nikel menjadi produk bernilai tambah tinggi, mencakup nickel matte, high-grade nickel matte, nickel sulfat, hingga electrolytic nickel (electric nickel) dengan kemurnian mencapai 99,99%. Electric nickel produksi Indonesia setelah audit operasional selama tiga bulan berhasil masuk ke London Metal Exchange (LME), membuktikan bahwa nikel Indonesia memiliki daya saing global dan bukan lagi disebut "nikel kotor". Indonesia juga menjadi salah satu dari sekitar 30 produsen terdaftar LME di dunia. Prestasi ini berkat kebijakan pemerintah sepuluh tahun lalu yang melarang ekspor bijih mentah, mendorong investasi dan transfer teknologi, serta mempercepat pengembangan industri hilir nikel di dalam negeri. Saat ini industri nikel Indonesia tidak hanya memproduksi baja tahan karat, NPI (Nickel Pig Iron), tetapi juga memasuki rantai pasok kendaraan listrik, seperti nikel sulfat dan bahan baterai lainnya. Rencana produksi MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) CNGR masih dalam tahap perencanaan. Hingga akhir tahun 2025, sekitar 67% pengolahan nikel hingga produk antara di dunia berasal dari Indonesia. Ia mengingatkan bahwa posisi strategis ini harus dijaga dengan meningkatkan kualitas produk, inovasi teknologi, dan kepatuhan regulasi.
Negara lain juga mengejar ketertinggalan pasar; jika kualitas dan keberlanjutan tidak dijaga, posisi ini bisa tergantikan. Ia berpendapat bahwa keberlanjutan industri nikel Indonesia bergantung pada koordinasi antara kebijakan pemerintah, kepatuhan industri, dan penelitian serta pengembangan teknologi yang berkelanjutan. Terakhir, ia menegaskan komitmen CNGR untuk mendukung penguatan pengolahan hilir nikel dan integrasi industri nasional, melalui kepatuhan global, integrasi industri, dan peningkatan nilai lokal, menjadikan Indonesia sebagai pemain strategis dalam rantai pasok energi baru.
行业快讯
Transformasi Industri Nikel dan Pengembangan Hilir Mendukung Pembangunan Berkelanjutan Indonesia
Direktur Hubungan Eksternal CNGR Indonesia menekankan pentingnya transformasi regulasi dan penguatan pengolahan hilir bijih nikel untuk menjaga keberlanjutan industri nikel Indonesia di pasar global dalam acara Buka Puasa Bersama Pemangku Kepentingan "Indonesia Mining Outlook 2026" yang diadakan di Jakarta. Ia menyebutkan bahwa produk nikel yang diproduksi CNGR tidak hanya ditujukan untuk industri kendaraan listrik (EV), tetapi memiliki aplikasi yang lebih luas, dan telah lama menjadi sumber daya penting bagi peradaban manusia. Orang sering mengira nikel hanya terkait dengan EV, padahal pasokan nikel Indonesia melayani kebutuhan global yang lebih luas, termasuk baja tahan karat dan berbagai teknologi lainnya. Ia mengulas evolusi teknologi manusia: dari kayu, besi, hingga baja tahan karat, dan kini nikel dalam pengembangan kendaraan listrik dan energi hijau.
Ke depan tidak hanya EV, tetapi juga pengembangan teknologi energi hijau untuk menciptakan bumi yang lebih bersih bagi generasi mendatang. Sejak 2021, CNGR telah mengoperasikan teknologi OESBF di Morowali, mengolah bijih nikel menjadi produk bernilai tambah tinggi, mencakup nickel matte, high-grade nickel matte, nickel sulfat, hingga electrolytic nickel (electric nickel) dengan kemurnian mencapai 99,99%. Electric nickel produksi Indonesia setelah audit operasional selama tiga bulan berhasil masuk ke London Metal Exchange (LME), membuktikan bahwa nikel Indonesia memiliki daya saing global dan bukan lagi disebut "nikel kotor". Indonesia juga menjadi salah satu dari sekitar 30 produsen terdaftar LME di dunia. Prestasi ini berkat kebijakan pemerintah sepuluh tahun lalu yang melarang ekspor bijih mentah, mendorong investasi dan transfer teknologi, serta mempercepat pengembangan industri hilir nikel di dalam negeri. Saat ini industri nikel Indonesia tidak hanya memproduksi baja tahan karat, NPI (Nickel Pig Iron), tetapi juga memasuki rantai pasok kendaraan listrik, seperti nikel sulfat dan bahan baterai lainnya. Rencana produksi MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) CNGR masih dalam tahap perencanaan. Hingga akhir tahun 2025, sekitar 67% pengolahan nikel hingga produk antara di dunia berasal dari Indonesia. Ia mengingatkan bahwa posisi strategis ini harus dijaga dengan meningkatkan kualitas produk, inovasi teknologi, dan kepatuhan regulasi.
Negara lain juga mengejar ketertinggalan pasar; jika kualitas dan keberlanjutan tidak dijaga, posisi ini bisa tergantikan. Ia berpendapat bahwa keberlanjutan industri nikel Indonesia bergantung pada koordinasi antara kebijakan pemerintah, kepatuhan industri, dan penelitian serta pengembangan teknologi yang berkelanjutan. Terakhir, ia menegaskan komitmen CNGR untuk mendukung penguatan pengolahan hilir nikel dan integrasi industri nasional, melalui kepatuhan global, integrasi industri, dan peningkatan nilai lokal, menjadikan Indonesia sebagai pemain strategis dalam rantai pasok energi baru.