
Media AS: Reputasi 'Nikel Kotor' yang Muncul Mengancam Mimpi Kendaraan Listrik Indonesia
"Awalnya memiliki mimpi tentang perkembangan manufaktur kendaraan listrik yang makmur, tetapi justru menyebabkan lebih banyak konsumsi sumber daya batu bara." The Wall Street Journal AS melaporkan pada tanggal 4 bahwa kebijakan Indonesia melarang ekspor nikel mentah berarti akan lebih banyak pabrik peleburan dibangun di dalam negeri, dan sebelum era kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan tiba, negara ini mungkin harus mengalami 'pesta batu bara' terlebih dahulu. Nikel adalah salah satu bahan kunci baterai kendaraan listrik, dan Indonesia menguasai setengah dari pasokan nikel global. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia, untuk memperkuat dan mengoptimalkan manfaat ekonomi sumber daya dalam negeri, mengambil kebijakan 'hilirisasi' yang hanya mengizinkan ekspor logam penting termasuk nikel dalam bentuk logam olahan. Pada tahun 2020, pemerintah Indonesia sepenuhnya melarang ekspor nikel, berharap dengan demikian mendorong investasi asing untuk memperluas investasi di industri logam Indonesia, membangun sistem industri lokal, menghubungkan industri nikel dengan industri kendaraan listrik, dan mengembangkan rantai pasokan kendaraan listrik dalam negeri. Pemerintah Indonesia, untuk memperkuat dan mengoptimalkan manfaat ekonomi sumber daya dalam negeri, mengambil kebijakan yang hanya mengizinkan ekspor sumber daya mineral penting termasuk nikel dalam bentuk logam olahan, yang dikenal sebagai kebijakan 'hilirisasi'. Pada tahun 2020, Indonesia melarang ekspor nikel sepenuhnya, berharap dapat mendorong investasi asing untuk memperluas investasi di industri logam Indonesia, membangun sistem industri lokal, menghubungkan industri nikel dengan industri kendaraan listrik, dan mengembangkan rantai pasokan kendaraan listrik dalam negeri.
