Indonesia berencana bekerja sama dengan perusahaan China untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt. Kerja sama ini dimajukan dalam kunjungan kerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ke China, yang baru-baru ini melakukan pertemuan bilateral dengan produsen panel surya China, Trina Solar. Potensi energi surya Indonesia mencapai 3.294 GWp, namun hingga Desember 2024 baru dimanfaatkan sekitar 912 MW. Pemerintah berharap kerja sama ini dapat mengoptimalkan perencanaan pasokan listrik energi bersih guna mewujudkan keberlanjutan dan kemandirian energi.
Kerja sama ini berfokus pada PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI), perusahaan patungan antara Trina Solar dengan mitra lokal Indonesia yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Jawa Tengah. TMAI didirikan pada tahun 2023 dan merupakan pabrik terintegrasi tingkat pertama di Indonesia yang fokus pada produksi sel surya dan modul surya, dengan kapasitas produksi awal 1 GWp per tahun, dan direncanakan akan diperluas menjadi 3 GW dalam 2-3 tahun ke depan, menggunakan teknologi i-TOPCon tipe N yang efisien.
Kerja sama ini dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor komponen industri energi, mempercepat hilirisasi industri, serta membangun ekosistem dan rantai pasok energi surya dalam negeri, termasuk produksi wafer silikon, ingot silikon (bahan yang biasa digunakan dalam peleburan semikonduktor dan polisilikon). Mendukung rencana Presiden Prabowo untuk membangun PLTS 100 GW, termasuk proyek PLTS desa yang dimajukan melalui model koperasi desa. Diharapkan melalui investasi dan transfer teknologi dari produsen global, target dapat dipercepat, serta memperluas kerja sama ke penerapan teknologi terbaru, solusi energi terpadu (mencakup R&D, manufaktur, pengembangan proyek, sistem IoT, dan sistem penyimpanan energi, dll.).
Indonesia berencana bekerja sama dengan perusahaan China untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt. Kerja sama ini dimajukan dalam kunjungan kerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ke China, yang baru-baru ini melakukan pertemuan bilateral dengan produsen panel surya China, Trina Solar. Potensi energi surya Indonesia mencapai 3.294 GWp, namun hingga Desember 2024 baru dimanfaatkan sekitar 912 MW. Pemerintah berharap kerja sama ini dapat mengoptimalkan perencanaan pasokan listrik energi bersih guna mewujudkan keberlanjutan dan kemandirian energi.
Kerja sama ini berfokus pada PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI), perusahaan patungan antara Trina Solar dengan mitra lokal Indonesia yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Jawa Tengah. TMAI didirikan pada tahun 2023 dan merupakan pabrik terintegrasi tingkat pertama di Indonesia yang fokus pada produksi sel surya dan modul surya, dengan kapasitas produksi awal 1 GWp per tahun, dan direncanakan akan diperluas menjadi 3 GW dalam 2-3 tahun ke depan, menggunakan teknologi i-TOPCon tipe N yang efisien.
Kerja sama ini dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor komponen industri energi, mempercepat hilirisasi industri, serta membangun ekosistem dan rantai pasok energi surya dalam negeri, termasuk produksi wafer silikon, ingot silikon (bahan yang biasa digunakan dalam peleburan semikonduktor dan polisilikon). Mendukung rencana Presiden Prabowo untuk membangun PLTS 100 GW, termasuk proyek PLTS desa yang dimajukan melalui model koperasi desa. Diharapkan melalui investasi dan transfer teknologi dari produsen global, target dapat dipercepat, serta memperluas kerja sama ke penerapan teknologi terbaru, solusi energi terpadu (mencakup R&D, manufaktur, pengembangan proyek, sistem IoT, dan sistem penyimpanan energi, dll.).