Proyek Pengolahan Air Limbah Kilang Minyak Menjadi Garam Industri di Indonesia
PT Garam, anak perusahaan ID Food, berencana membangun pabrik pengolahan air limbah di Kota Balikpapan untuk mengolah air limbah dari Rencana Induk Pengembangan Kilang Minyak (RDMP) Pertamina menjadi garam industri. Proyek ini bernilai investasi Rp7 triliun dan diperkirakan akan dimulai pada April 2026. Sekretaris Perusahaan PT Garam menyatakan bahwa air garam dari proses boiler Kilang Balikpapan Pertamina sebelumnya hanya dinetralkan dan dibuang ke laut, sementara pabrik tersebut mengambil air laut untuk memenuhi kebutuhan boiler. Karakteristik sumber daya ini memberikan potensi besar bagi proyek pengolahan air limbah menjadi garam.
Ekspor Manggis Bali ke China Melonjak Akibat Imbas Imlek
Dua Perusahaan China Berminat Kembangkan Industri Rare Earth Indonesia
Industri Manufaktur Indonesia Tumbuh 5,15% Tahun Lalu
Produksi Batubara Indonesia Tahun Ini Dipotong menjadi Lebih dari 600 Juta Ton
70% Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum di Indonesia Dioperasikan Perusahaan Swasta
Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengungkapkan bahwa sekitar 70% dari stasiun pengisian kendaraan listrik umum di Indonesia dioperasikan oleh perusahaan swasta. Hal ini menandai perkembangan infrastruktur kendaraan listrik Indonesia menuju kemandirian ekosistem, serta mencerminkan meningkatnya kepercayaan perusahaan terhadap prospek pasar kendaraan listrik Indonesia. Wakil Presiden Pengembangan Bisnis Produk PLN menyatakan bahwa saat ini 70% dari stasiun pengisian dioperasikan oleh swasta melalui skema kerja sama, sementara pada awal pengembangan industri tahun 2018, hampir semua stasiun dibangun dan dioperasikan oleh PLN sebagai fondasi ekosistem kendaraan listrik. Seiring bertambahnya jumlah kepemilikan kendaraan listrik dan permintaan pengisian di Indonesia, sw
MIND ID Mengadakan Upacara Peletakan Batu Pertama untuk Proyek Pabrik Pemurnian Alumina Tahap II
Perusahaan tambang BUMN Indonesia MIND ID baru-baru ini mengadakan upacara peletakan batu pertama untuk proyek pabrik pemurnian alumina tahap II di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini juga diresmikan secara daring bersamaan dengan lima proyek industri hilir lainnya, menandai <strong>terbentuknya rantai industri aluminium yang lengkap di Indonesia</strong>. Proyek ini dikerjakan bekerja sama antara Inalum (anak perusahaan MIND ID), Antam, dan Bukit Asam, tiga BUMN, dengan <strong>total investasi Rp104,55 triliun (sekitar US$6,23 miliar)</strong>, dan merupakan proyek strategis inti dalam mendorong <strong>hilirisasi mineral</strong> di Indonesia. Proyek ini memiliki <strong>kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun</strong>. Setelah digabungkan dengan proyek tahap I yang sudah beroperasi, total kapasitas tahunan akan mencapai <strong>2 juta ton</strong>, setiap tahunnya menyerap <strong>6 juta ton bauksit</strong> dari Antam, dengan pasokan listrik dari Bukit Asam. Proyek ini bukan sekadar fasilitas produksi, melainkan <strong>ekosistem industri terpadu nasional</strong> yang mengintegrasikan bahan baku, energi, infrastruktur, dan tenaga kerja, membantu Indonesia lepas dari ketergantungan ekspor bahan mentah menuju <strong>produksi bernilai tambah tinggi</strong>.
Industri Baja Indonesia Mengalami Dampak Serius dari Produk Impor
Industri baja dalam negeri Indonesia menghadapi tekanan berat dari gempuran produk impor dan persaingan harga. Tingkat utilisasi kapasitas pabrik industri hanya sekitar 52%, jauh di bawah tingkat optimal, yang mencerminkan rendahnya penyerapan produk lokal di pasar domestik. Padahal Indonesia sebenarnya memiliki kapasitas produksi baja yang cukup untuk memenuhi kebutuhan di berbagai sektor konstruksi dalam negeri. Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Baja Indonesia menyatakan bahwa pada tahun 2024-2026 sudah ada 8 perusahaan baja yang berhenti beroperasi. Penyebab utamanya adalah tekanan terus-menerus pada laba perusahaan dan monopoli pasar domestik oleh produk impor murah. Dampak ini juga menyebar ke industri hilir, ketenagakerjaan, dan rantai pasok bahan baku. Jika terus berlanjut,
Pemerintah Indonesia Mengurangi Produksi Batu Bara Secara Drastis yang Berpotensi Mempengaruhi Operasi Perusahaan
Rencana kerja pemerintah Indonesia tahun 2026 akan memotong produksi batu bara lebih dari 50%, Kementerian Energi merencanakan pengurangan menjadi 600 juta ton, turun signifikan dari 790 juta ton pada tahun 2025, dengan pengurangan aktual mencapai 40%-70%. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran industri, dianggap akan berdampak serius pada operasi perusahaan, bahkan menimbulkan efek negatif berantai. Para ahli dari Pusat Penelitian Hukum Energi dan Mineral menunjukkan bahwa pengurangan produksi hingga 70% akan menghancurkan arus kas perusahaan, dapat menyebabkan penundaan kontrak penjualan, PHK karyawan, serta penurunan drastis penerimaan negara bukan pajak dan royalti tambang dalam jangka pendek. Hal ini juga dapat mengganggu pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga batu bara dalam negeri.
Investor AS dan Tiongkok berminat mengembangkan industri semikonduktor Indonesia
Asosiasi Kawasan Industri Indonesia mengungkapkan bahwa investor dari Amerika Serikat, Tiongkok Daratan, dan Taiwan Tiongkok telah menunjukkan minat investasi di industri semikonduktor Indonesia. Asosiasi menyerukan agar perusahaan semikonduktor global membentuk perusahaan patungan dengan perusahaan lokal Indonesia untuk mendorong transfer teknologi, memperkuat rantai pasok lokal, dan meningkatkan kapasitas tenaga kerja Indonesia, sehingga investasi asing tidak hanya berhenti pada pembangunan kapasitas produksi. Ketua Asosiasi menyatakan bahwa konsorsium gabungan AS-Jerman telah memulai pembangunan industri semikonduktor di Batam, Indonesia. Konsorsium yang terdiri dari beberapa perusahaan ini memiliki investasi sebesar 26,73 miliar dolar AS (sekitar 447,59 triliun rupiah) di Batam. Fasilitas terkait akan
Pemerintah Indonesia mengambil berbagai langkah untuk menyelamatkan industri baja dalam negeri
Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa industri baja dalam negeri menghadapi berbagai tantangan perkembangan, dengan banjirnya produk baja impor murah dan ketertinggalan teknologi peralatan produksi dalam negeri sebagai inti masalahnya, yang secara langsung menyebabkan kapasitas produksi dalam negeri tidak dapat terserap sepenuhnya oleh pasar domestik. Wakil Menteri Perindustrian dalam rapat kerja komisi DPR mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 produksi baja mentah Indonesia mencapai 19 juta ton, meningkat dari 18,6 juta ton pada tahun 2024, menempati peringkat ke-13 dunia; sementara data Asosiasi Baja Dunia menunjukkan bahwa pada tahun 2025 produksi baja mentah global mencapai 1,849 miliar ton, dengan Tiongkok memimpin sebesar 960,8 juta ton atau 51,9%, India 164,9
Danantara melakukan peletakan batu pertama proyek pabrik baja skala besar pada Maret tahun ini
Perusahaan manajemen aset negara Danantara berencana mengadakan upacara peletakan batu pertama untuk proyek pabrik baja terintegrasi berkapasitas 3 juta ton per tahun pada Maret 2026. Kepala petugas operasional sekaligus Ketua Dewan Pengawas BUMN menyatakan bahwa pengembangan kapasitas baja hulu ini merupakan prioritas inti, yang bertujuan untuk mematahkan monopoli impor baja yang telah lama menguasai pasar domestik Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat kerja dan dengar pendapat dengan Komisi VI DPR. Proyek pabrik baja berkapasitas 3 juta ton per tahun sebelumnya telah melibatkan kerja sama antara PT Krakatau Steel (BUMN) dengan Delong Steel Group Tiongkok yang berada di peringkat ke-11 dunia.