Pada tahun 2024, produksi gula kelapa Indonesia melonjak drastis dari 142 ton pada tahun 2023 menjadi 154.126 ton, mengakhiri tren penurunan selama dua tahun berturut-turut. Pertumbuhan produksi ini didominasi oleh tiga provinsi: Jawa Timur (60.138 ton), Jawa Tengah (51.095 ton), dan Sumatera Utara (23.160 ton), yang bersama-sama menyumbang 86% dari total produksi nasional. Sisanya berasal dari Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan beberapa daerah kecil lainnya yang mulai mengembangkan komoditas ini. Gula kelapa semakin penting dalam industri makanan dan minuman Indonesia, mulai dari kopi susu yang populer di perkotaan hingga kue tradisional di pasar pedesaan, dengan permintaan yang terus meningkat. Produksi nira kelapa sebagai bahan baku utama gula kelapa turun drastis dari 17,3 ton pada tahun 2022 menjadi 1,1 ton pada tahun 2023, sementara produksi tepung kelapa juga stagnan. Selain itu, terdapat ketimpangan regional, dengan produksi terkonsentrasi di sedikit provinsi; tingkat industrialisasi rendah, sebagian besar produksi masih menggunakan cara tradisional. Terdapat juga masalah regenerasi petani: akibat kurangnya insentif, sedikit petani muda yang bersedia mengelola kebun kelapa, padahal pohon kelapa dapat berproduksi hingga 25-30 tahun. Jika tren ini berlanjut, lonjakan produksi tahun 2024 mungkin hanya bersifat sementara. Pemerintah telah menetapkan hasil hutan bukan kayu sebagai salah satu prioritas pengembangan kehutanan sosial, namun implementasi di tingkat daerah sangat bervariasi, kurangnya koordinasi lintas sektor dan insentif fiskal menghambat industrialisasi produk kelapa. Tanpa intervensi jangka panjang, krisis pasokan dapat terjadi lagi dalam waktu dekat. Permintaan komoditas terus meningkat, terutama dari industri minuman kemasan dan kopi, namun jika bahan baku masih langka dan hanya terkonsentrasi di sedikit provinsi, harga bisa melonjak, margin keuntungan perusahaan mengecil, dan konsumen pun akan terkena dampaknya.