Pada semester I 2025, realisasi investasi industri hilir Indonesia mencapai 280,8 triliun rupiah, tumbuh 54,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan menyumbang 29,8% dari total investasi nasional pada periode tersebut (942,9 triliun rupiah). Pada kuartal II, investasi mencapai 144,5 triliun rupiah, atau 30,2% dari total investasi kuartalan (477,7 triliun rupiah), menunjukkan tren pertumbuhan. Sektor mineral mendominasi dengan 193,8 triliun rupiah, dengan nikel (94,1 triliun rupiah) sebagai inti, diikuti tembaga (40 triliun rupiah) dan bauksit (27,7 triliun rupiah). Industri hilir nikel menjadi inti ekosistem kendaraan listrik (termasuk baterai dan sistem daur ulang). Saat ini, bekerja sama dengan BUMN, sedang dijalankan proyek rantai industri penuh (dari bijih nikel hingga daur ulang baterai) senilai 90 miliar dolar AS (sekitar 150 triliun rupiah). Sektor perkebunan dan kehutanan menyumbang 67,4 triliun rupiah, dengan kelapa sawit (31,6 triliun rupiah), kayu gelondongan (24,9 triliun rupiah), dan karet (8,2 triliun rupiah) sebagai komponen utama. Sektor minyak dan gas bumi berinvestasi 17,3 triliun rupiah, terdiri dari minyak mentah 7,9 triliun rupiah dan gas alam 9,4 triliun rupiah. Sektor perikanan berinvestasi 2,3 triliun rupiah, meliputi komoditas seperti garam, tuna, cakalang, makarel, udang, rumput laut, rajungan, ikan nila, dll. Menteri Investasi dan Industri Hilir menyatakan bahwa dengan masuknya investor baru dan kemajuan proyek hilirisasi berbagai komoditas strategis, investasi industri hilir diperkirakan akan terus tumbuh pada semester II 2025 dan menjadi pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.